Pada saat itu, sang sutradara memang berencana mengangkat perjalanan sengsara Yesus di Bukti Golgota ke layar lebar.
Dari pertemuannya dengan Gibson, Caviezel kemudian mengiyakan tawaran sebagai Yesus karena ia menilai sang sutradara punya komitmen untuk mengangkat kisah Yesus tanpa batasan.
Baca Juga:
13 Hari Tayang, Ghost in the Cell Raup Lebih dari 2 Juta Penonton di Bioskop
"Saya tidak melihatnya dan berkata, 'Saya Katolik, dan saya akan berperan sebagai Yesus'," kata Caviezel dikutip dari Today.
Selama memerankan Yesus di Passion of The Christ, Caviezel mengaku melewati perjuangan keras karena proses syuting yang tidak mudah.
Proses pengambilan gambar berlangsung di Italia, termasuk di Studio Cinecittà, kota tua Matera, dan kota Craco (Basicilicata) tahun 2003.
Baca Juga:
Adaptasi “Wuthering Heights” 2026 Tembus Rp4,1 Triliun, Tawarkan Versi Ramah Disabilitas
Caviezel mengatakan, ia bagun pukul 2 dini hari dan membutuhkan waktu 8 jam untuk merias wajah, termasuk mendandani tubuhnya.
Penata rias membutuhkan waktu lama karena mereka harus mensimulasikan luka, bengkak, dan daging yang robek layaknya kisah Yesus yang sebenarnya saat hendak disalib.
Ia mengatakan, proses syuting mengikuti alur perjalanan Yesus, termasuk deretan adegan penyiksaan.