Perempuan yang sedang mengalami menstruasi juga diimbau untuk melapor sesuai dengan tradisi yang masih dijaga oleh masyarakat setempat.
Menurut penjaga kawasan wisata, berbagai pantangan tersebut lahir dari kepercayaan masyarakat yang menganggap lokasi air terjun memiliki nilai kesakralan.
Baca Juga:
Air Terjun Dolok Bunga: Surga Tersembunyi Tapanuli Tengah
"Pantangan itu karena dianggap sakral oleh masyarakat setempat."
Ia mengatakan sudah ada sejumlah pengunjung yang mengabaikan larangan tersebut dan kemudian mengaku mengalami pengalaman yang tidak biasa selama berada di lokasi.
"Banyak kejadian yang tetap pakai baju merah ke air terjun, kayak sakit atau kayak lihat 'sesuatu' di sekitar air terjun," ujar seorang penjaga air terjun.
Baca Juga:
Operasi Gabungan Tim SAR Hentikan Pencari Korban Hanyut di Air Terjun Wera
Terlepas dari cerita yang berkembang di masyarakat, Air Terjun Sitapigagan justru semakin dikenal luas setelah banyak video dan foto kawasan tersebut beredar di media sosial.
Popularitasnya meningkat pesat sejak awal tahun 2026 sehingga jumlah wisatawan yang datang ke kawasan ini terus mengalami kenaikan.
Untuk menikmati keindahan Air Terjun Sitapigagan, wisatawan cukup membayar tiket masuk sebesar Rp5.000 per orang serta biaya parkir Rp2.000 untuk setiap sepeda motor.