Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemarahan publik tidak berdiri sendiri sebagai persoalan psikologis, tetapi berkaitan erat dengan tekanan sosial, ekonomi, keamanan, dan kualitas hidup sehari-hari.
“Secara global, sekitar satu dari lima orang mengalami kemarahan pada hari sebelumnya,” demikian temuan utama dalam laporan emosi global Gallup.
Baca Juga:
Viral Dugaan Pesta Sesama Jenis, THM di Karawang Langsung Disegel Satpol PP
Laporan tersebut juga mencatat sejumlah negara di Timur Tengah dan kawasan sekitarnya, seperti Irak, Iran, Yordania, Lebanon, dan Turki, memiliki tingkat kemarahan yang relatif tinggi.
Fakta itu memperlihatkan bahwa kawasan yang berulang kali menghadapi ketegangan geopolitik, tekanan ekonomi, dan konflik sosial cenderung memiliki beban emosional masyarakat yang lebih berat.
Irak menjadi salah satu contoh negara yang secara rutin masuk dalam daftar negara paling pemarah karena masih bergulat dengan dampak panjang invasi pimpinan Amerika Serikat pada 2003.
Baca Juga:
Bupati Muara Enim Edison Terseret OTT KPK, Dugaan Duit Proyek Pendidikan Mulai Terbongkar
Sejak masa itu, Irak menghadapi tantangan besar dalam menjaga stabilitas politik, keamanan, dan ketertiban sosial di tengah upaya membangun kembali kehidupan masyarakat.
Palestina juga masuk dalam daftar tersebut karena konflik berkepanjangan, pembatasan, dan tekanan ekonomi terus memengaruhi kehidupan warga sehari-hari.
Banyak warga Palestina hidup dalam situasi tidak pasti, sehingga rasa frustrasi dan kemarahan menjadi bagian dari tekanan sosial yang terus menumpuk.