Republik Demokratik Kongo atau DRC menjadi gambaran paling jelas tentang hubungan antara konflik, krisis kemanusiaan, dan tingginya tingkat kemarahan masyarakat.
Negara tersebut secara konsisten disebut sebagai salah satu wilayah yang paling parah terdampak konflik, dengan jutaan penduduk menghadapi pengungsian, kelaparan, wabah penyakit, dan kesulitan ekonomi.
Baca Juga:
Pelita Air Bakal Masuk Garuda Group, MARTABAT Prabowo-Gibran: Konsolidasi Harus Tingkatkan Pelayanan
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebanyak 27,7 juta orang di Republik Demokratik Kongo mengalami kelaparan akut pada 2025.
Lebih dari 7,8 juta orang juga dilaporkan mengungsi di berbagai wilayah negara tersebut akibat kekerasan yang terus meningkat.
Konflik yang meluas telah mengganggu mata pencaharian warga, memperburuk inflasi, dan membatasi akses masyarakat terhadap makanan serta bantuan kemanusiaan.
Baca Juga:
KAI Kecam Ucapan Kasar Advokat ke Wartawan, Kak Mia: Officium Nobile Wajib Jaga Etika
Situasi pengungsian di kamp-kamp sementara turut memperbesar risiko kesehatan, termasuk munculnya wabah kolera dan campak.
Pada 2026, DRC juga menghadapi wabah Ebola baru di Provinsi Ituri dan Kivu Utara yang selama ini dikenal sebagai wilayah terdampak konflik.
“Banyak negara yang paling marah di dunia sedang menghadapi ketidakstabilan politik atau ekonomi, atau berjuang dengan dampak perang,” tulis Facts Institute dalam ulasannya.