Selain rancangan arsitektur gedung dan karya-karya seni instalasi yang dipajang, beberapa bagian di area gedung Sopo Del juga merepresentasi sekaligus terinspirasi adat dan budaya batak Toba.
Hal itu tampak dari pilihan warna tanah, yang dominan di bagian dalam gedung. Selain itu, di bagian dalam, sejumlah ukiran bisa dengan mudah ditemukan, baik di beberapa sudut dinding maupun langit-langit ruangan.
Baca Juga:
100 Tahun Sitor Situmorang: Napak Tilas Sang Penyair Melalui Panggung Opera Batak
Motif ukiran-ukiran tersebut memiliki pola yang sama dengan motif ukiran khas dari Sumatera Utara.
Sementara pada bagian fasad yang ada di eksterior gedung, kata Surya, bisa membentuk pola bayangan yang mirip dengan motif pada kain ulos saat ditimpa sinar matahari pada kondisi dan sudut datang cahaya tertentu.
Hal itu diyakini bakal menjadi kelebihan tersendiri yang juga lumayan menghibur.
Baca Juga:
Mengapa Suku Batak Menjadi Pencetak Sarjana Terbanyak?
Ramah Lingkungan
Kelebihan lain yang dimiliki Sopo Del adalah proses pembangunannya sejak awal mengikuti kaidah ramah lingkungan, termasuk pengadaan mekanisme pengolahan limbah dan air, salah satunya dengan membangun sekitar 43 sumur resapan.