WAHANANEWS.CO, Jakarta - Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap 8 Maret, akademisi sekaligus kreator film Mufti Mubarok meluncurkan trailer film layar lebar berjudul Perempuan Pembawa Harapan.
Peluncuran trailer tersebut menjadi bagian dari gerakan kreatif bertajuk Laskar Pelangi Reborn, yang bertujuan menghadirkan karya film inspiratif tentang perjuangan perempuan dan nilai kemanusiaan.
Baca Juga:
BPKN RI Dukung Langkah BPOM Ungkap Temuan Paparan Toksin pada Susu Formula Bayi Impor
Film Perempuan Pembawa Harapan mengisahkan dedikasi seorang perempuan yang mengabdikan dirinya sebagai tenaga kesehatan di wilayah terpencil.
Melalui film ini, Mufti ingin mengangkat peran perempuan yang sering menjadi sumber kekuatan dan harapan bagi masyarakat, khususnya di daerah yang jauh dari jangkauan pembangunan.
“Film ini merupakan bentuk penghormatan kepada perempuan yang bekerja dalam senyap, namun memberikan dampak besar bagi kehidupan masyarakat. Mereka adalah pembawa harapan di tengah keterbatasan,” ujar Mufti Mubarok saat peluncuran trailer film tersebut.
Baca Juga:
Perkuat Keamanan dan Perlindungan Konsumen, BPKN Luncurkan Standar Baru Industri Konser
Kisah Pengabdian di Desa Terpencil
Cerita film ini berfokus pada tokoh Safira, seorang bidan yang memilih mengabdikan hidupnya di sebuah desa pesisir yang terpencil.
Jauh dari hiruk pikuk kota dan dengan fasilitas kesehatan yang terbatas, Safira bertugas di sebuah Puskesmas Pembantu (PUSTU) dan menjadi satu-satunya tenaga kesehatan yang dapat diandalkan warga.
Dalam kesehariannya, Safira mendatangi rumah-rumah warga untuk memastikan para ibu dapat melahirkan dengan aman dan anak-anak memperoleh layanan kesehatan yang layak.
Ia kerap berjalan menembus gelap malam, hujan, serta kesunyian desa demi membantu masyarakat yang membutuhkan.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan akses, Safira menjadi simbol harapan bagi warga desa yang selama ini jarang tersentuh pelayanan kesehatan.
Namun perjalanan pengabdiannya tidak selalu mudah.
Di balik ketenangan sikapnya, Safira menyimpan konflik dalam kehidupan rumah tangganya.
Suaminya, Junaedi, perlahan terjebak dalam rasa frustrasi, kegagalan hidup, dan kemarahan yang memicu kekerasan dalam rumah tangga.
Ketika berbagai peluang hidup terasa tertutup bagi Junaedi, Safira dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan rumah tangga atau melindungi keselamatan serta martabat dirinya.
Potret Ketangguhan Seorang Perempuan
Melalui alur cerita yang emosional, film ini menggambarkan perjalanan batin Safira.
Dari seorang gadis pendiam, ia tumbuh menjadi istri yang setia hingga akhirnya menjelma menjadi perempuan tangguh yang percaya bahwa menolong sesama merupakan bentuk pengabdian dan ibadah.
Walaupun menghadapi tekanan ekonomi, ancaman kekerasan, dan keterasingan sosial, Safira tetap melangkah tanpa menyerah dalam membantu orang lain.
Kisah ini menyoroti keberanian perempuan yang sering kali tidak terlihat oleh sorotan publik.
Film Perempuan Pembawa Harapan menghadirkan potret kemanusiaan yang hangat sekaligus menjadi penghormatan bagi perempuan-perempuan sederhana yang melakukan hal luar biasa dalam kehidupan sehari-hari.
Gerakan Kreatif Laskar Pelangi Reborn
Peluncuran trailer ini juga menjadi bagian dari gerakan kreatif Laskar Pelangi Reborn, yang berupaya menghidupkan kembali semangat karya inspiratif melalui film-film yang mengangkat nilai kemanusiaan, pendidikan, serta perjuangan sosial.
Gerakan ini terinspirasi dari semangat film Indonesia seperti Laskar Pelangi yang dikenal luas karena kisah inspiratif tentang harapan dan pendidikan di tengah keterbatasan.
Mufti berharap film ini dapat menjadi refleksi sekaligus bentuk penghargaan bagi perempuan yang terus berjuang di berbagai bidang kehidupan meskipun sering kali tanpa pengakuan.
“Di tempat-tempat paling sunyi dan gelap, selalu ada perempuan yang menjaga agar harapan tetap hidup. Film ini adalah penghormatan bagi mereka,” ungkapnya.
Film Perempuan Pembawa Harapan direncanakan diproduksi sebagai film layar lebar dan diharapkan dapat menjangkau penonton luas.
Melalui kisah ini, pesan tentang pentingnya peran perempuan dalam membangun kehidupan yang lebih manusiawi dan penuh harapan diharapkan dapat tersampaikan kepada masyarakat.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]