Di Jepang sendiri, penilaian wagyu dilakukan menggunakan sistem yang sangat ketat mulai dari standar yield A hingga C dan kualitas 1 sampai 5.
Selain itu, terdapat pula Beef Marbling Standard (BMS) dengan skala 1 hingga 12 untuk mengukur kualitas marbling pada daging wagyu.
Baca Juga:
Grace Natalie Tersandung Kasus Video JK, PSI Ogah Beri Bantuan Hukum
Wagyu dengan grade A5 dan skor BMS 10 hingga 12 disebut menjadi kasta tertinggi karena memiliki kualitas terbaik dan tingkat marbling paling premium.
Ronny mengungkap harga wagyu asli Jepang memang sangat mahal karena dipengaruhi faktor genetik murni, sistem grading resmi, hingga proses pemeliharaan yang sangat ketat.
"Harga premium bisa lebih tinggi karena proses pemeliharaan yang ketat, genetik murni, dan sistem grading resmi A5 yang hanya bisa dicapai di Jepang," ujarnya.
Baca Juga:
Bus ALS Tabrak Tangki BBM di Muratara, 16 Orang Tewas Terbakar dan Penumpang Tak Sempat Keluar
Untuk steak wagyu asli Jepang, harga yang ditawarkan disebut bisa mencapai minimal US$200 per kilogram atau sekitar Rp3,2 juta dengan asumsi kurs Rp16 ribu per dolar AS.
Di luar Jepang, Australia saat ini menjadi produsen wagyu terbesar dengan kontribusi sekitar 18 persen dari total produksi wagyu dunia.
Selain Australia, negara lain seperti Amerika Serikat, Selandia Baru, Kanada, Inggris, Jerman, Taiwan, Hong Kong, hingga Singapura juga diketahui menjadi produsen wagyu skala global.