WahanaNews.co | Peneliti Jepang di Universitas Kyoto bereksperimen mengolah teh jenis baru yang dinamakan Chu-hi-cha. Varian minuman teh ini merupakan kotoran ulat yang memakan dedaunan berbagai tanaman.
Peneliti bernama Tsuyoshi Maruoka itu, mendapat ide teh ulat selama studi pascasarjana di Fakultas Pertanian Universitas Kyoto seraya meneliti hubungan misterius antara serangga dan tumbuhan.
Baca Juga:
Harga Beras di Jepang Nyaris Tembus Rp100 Ribu, Stok Langka dan Panic Buying Meluas
Suatu hari seorang senior membawa 50 larva ngengat gipsi ke lab dan memberitahu Maruoka bahwa itu adalah souvenir.
Melansir celebrities.id, Maruoka tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan larva tersebut pada awalnya, tapi akhirnya dia memutuskan setidaknya menjaga mereka tetap hidup, sampai dia bisa memutuskan.
Kemudian, Maruoka memetik beberapa daun dari pohon ceri terdekat dan memberikannya kepada ulat.
Baca Juga:
Liburan ke Bali Makin Mudah, Kolaborasi Indonesia-Jepang Genjot Wisatawan
Ketika membersihkan kotoran yang ditinggalkan oleh makhluk tersebut, dia memperhatikan bahwa kotoran itu memiliki bau harum yang menyenangkan. Dari situlah Maruoka terinspirasi untuk menyeduhnya menjadi teh.
"Ini akan Berhasil," ujar Maruoka yang berkata pada dirinya sendiri, dan dia benar.
Pada percobaanya itu, tidak hanya warna gelap dari kotoran yang memberikan warna pada teh, tapi minumannya pun berbau seperti bunga sakura, dan memiliki rasa yang sangat enak.