Huta Art Space dirancang sebagai pusat aktivitas seni dan kebudayaan yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer, tetapi juga sebagai ruang interaksi dan pembelajaran budaya.
“Saya berterima kasih kepada Bapak Tigor yang telah membangun Huta Art Space sebagai satu kantong budaya. Tempat ini tidak hanya menjadi ruang pamer, tetapi juga ruang aktivitas budaya yang hidup dan dirancang sendiri oleh beliau,” ujarnya.
Baca Juga:
Kunjungi Sumedang, Menteri Kebudayaan RI Dorong Revitalisasi Situs Bersejarah
Sementara itu, Maestro Fotografi Indonesia, Darwis Triadi, menyoroti peran penting fotografi sebagai medium yang mampu menjembatani generasi serta merekam perjalanan peradaban.
Ia menegaskan bahwa fotografi tidak sekadar merekam peristiwa, tetapi juga menyimpan nilai, emosi, dan identitas sebuah bangsa.
“Fotografi bukan sekadar alat dokumentasi, tapi cermin jiwa sebuah bangsa. Dan Danau Toba punya jiwa yang sangat dalam,” ujarnya, menegaskan.
Baca Juga:
Kemenbud Resmikan Galeri Cagar Budaya Gereja Immanuel, Fadli Zon: Living Museum Sejarah Bangsa
Di sisi lain, Pendiri Huta Art Space, Edward Tigor Siahaan, mengungkapkan bahwa pendirian ruang seni ini berangkat dari kegelisahannya terhadap minimnya ruang apresiasi seni di kawasan Danau Toba.
Ia berharap Huta Art Space dapat menjadi ruang yang menghadirkan pengalaman seni sekaligus memperkuat identitas budaya Batak.
“Huta Art Space menjadi tempat untuk merasakan ‘art experience’. Dan juga upaya merawat identitas Batak dan kawasan Danau Toba,” ucapnya.