Ketika Numa Pompilius menjadi raja berikutnya, ia kemudian mengubah kalender menjadi yang lebih akurat dengan siklus lunar yang ada.
Oleh karenanya, kalender 10 bulan tadi membutuhkan 2 bulan baru agar genap menjadi 355 hari.
Baca Juga:
Tuntaskan Pemeriksaan LKPD TA 2025, Bupati Karo Terima Tim BPK RI Perwakilan Sumut
Maka Numa Pompilius kemudian menambah Januari dan Februari ke dalam penanggalan baru sehingga dalam kalender romawi sudah berjumlah 12 bulan.
Mengapa hanya ada 28 hari di bulan Februari?
Mengutip dari buku “Matematika Kalender” oleh Riyanto, dahulu bangsa Romawi kesulitan dalam membuat kalender yang baik, karena yang mereka percayai adalah angka genap merupakan angka sial.
Baca Juga:
Bahas Krusial Keuangan Daerah,Bupati Karo Hadiri Zoom Meeting Penyaluran Bagi Hasil Pajak Rokok Triwulan I Tahun 2026 Bersama Provinsi Sumut
Namun ada pengecualian pada bulan Februari yang hanya terdiri dari 28 hari sehingga jika dijumlahkan nantinya menjadi ganjil, yaitu 365 hari dalam setahun.
Akan tetapi, kalender Romawi ini kemudian direformasi oleh Julius Caesar dengan tahun matahari (365 hari 6 jam) sebagai dasar kalender.
Kemudian umur bulan ditetapkan menjadi 30 sampai 31 hari, dan untuk menjaga kelebihan jam, dibuat tahun yang umurnya 366 hari setiap di tahun keempat.