WAHANANEWS.CO - Masih banyak perempuan takut keramas saat haid karena khawatir darah berhenti atau siklus terganggu, padahal secara medis anggapan itu tidak terbukti dan hanya mitos yang terus diwariskan.
Larangan keramas saat menstruasi selama ini kerap dipercaya dapat menghentikan darah haid atau bahkan memicu penyakit tertentu, namun pandangan tersebut tidak lagi relevan jika ditinjau dari sisi medis.
Baca Juga:
Bekerja 24 Jam Tanpa Henti, Ginjal Terbantu oleh Makanan Alami Ini
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Andon Hestiantoro, menegaskan bahwa mandi atau keramas ketika haid tidak akan menghentikan menstruasi secara permanen maupun mengacaukan siklusnya.
"Keramas atau mandi tidak menyebabkan menstruasi berhenti secara permanen, bahkan mengganggu siklus haid," tegas Andon.
Ia menjelaskan bahwa menstruasi merupakan proses kompleks yang diatur oleh hormon estrogen dan progesteron, dengan kendali melibatkan hipotalamus dan hipofisis di otak serta ovarium.
Baca Juga:
Mitos 10 Ribu Langkah Runtuh, Studi Harvard Sebut 4 Ribu Langkah Sehari Sudah Cukup
Aktivitas sehari-hari seperti mandi, keramas, olahraga ringan, hingga beraktivitas normal tidak memengaruhi kadar hormon tersebut secara signifikan.
"Karena itu, aktivitas seperti mandi, keramas, atau olahraga ringan tidak akan menghentikan pendarahan menstruasi," jelasnya.
Sebagian perempuan mungkin merasa aliran darah haid tampak berkurang atau seolah berhenti setelah keramas, kondisi yang kerap memperkuat mitos lama.
Namun menurut Andon, fenomena itu bersifat fisik dan sementara, bukan karena perubahan hormon.
"Darah haid tidak benar-benar berhenti total. Ia hanya mengurangi atau 'tertahan' sementara di dalam rongga rahim atau vagina, dan akan kembali keluar setelah efek tertentu hilang atau posisi tubuh berubah," ujarnya.
Ia menegaskan siklus haid secara keseluruhan tidak akan terganggu hanya karena kebiasaan mandi atau keramas, baik menggunakan air dingin maupun hangat selama tubuh merasa nyaman.
Untuk meluruskan anggapan keliru tersebut, Andon memaparkan beberapa hal yang mungkin terjadi saat perempuan keramas ketika sedang menstruasi.
Pertama, penyempitan pembuluh darah atau vasokonstriksi, di mana saat tubuh terkena air dingin pembuluh darah di permukaan kulit menyempit untuk menjaga suhu tubuh dan efek ini bersifat lokal serta sementara.
"Pada beberapa perempuan, penyempitan pembuluh darah ini bisa terjadi secara ringan di area rahim atau endometrium," kata Andon.
Akibatnya, aliran darah haid yang keluar tampak berkurang atau berhenti sesaat selama beberapa jam.
Kedua, faktor posisi tubuh dan gravitasi, di mana saat keramas dalam posisi berdiri atau membungkuk perempuan mungkin tidak menyadari darah yang keluar.
"Ketika selesai mandi dan kembali ke posisi rileks, darah yang sempat tertahan kemudian keluar, sehingga muncul kesan haid 'mulai lagi' setelah mandi," jelasnya.
Ketiga, faktor relaksasi, karena mandi air hangat justru membantu merilekskan otot-otot tubuh termasuk di sekitar rahim dan pada sebagian perempuan dapat membuat aliran darah terasa lebih lancar untuk sementara waktu.
Perubahan aliran darah saat atau setelah keramas bukanlah sesuatu yang berbahaya karena fenomena tersebut hanya sementara dan tidak memengaruhi siklus menstruasi secara keseluruhan.
"Intinya, perubahan darah yang tampak berkurang atau berhenti saat atau setelah keramas adalah fenomena fisik sementara, bukan hormonal," tutup dr Andon.
Dengan demikian, mitos larangan keramas saat haid seharusnya ditinggalkan karena menjaga kebersihan tubuh, termasuk keramas, justru penting untuk kenyamanan dan kesehatan selama menstruasi.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]