Training Director Real Driving Centre (RDC), Marcell Kurniawan, menjelaskan bahwa microsleep umumnya dipicu oleh kelelahan serta pola berkendara yang monoton tanpa antisipasi yang memadai.
“Kebanyakan pengendara tidak berpikir panjang dan tidak melakukan antisipasi, padahal seharusnya pengemudi membangun kebiasaan untuk mengidentifikasi, mengantisipasi, dan menghindari setiap potensi bahaya,” ujar Marcell.
Baca Juga:
Kecalakaan Mobil Pickup dan Sepeda Motor Sebabkan Satu Orang Meninggal Dunia di Subulussalam
Menurutnya, kondisi fisik dan mental pengemudi seharusnya dipersiapkan sejak sebelum perjalanan dimulai, terutama untuk perjalanan jarak jauh.
Kurang tidur dan memaksakan diri mengemudi dalam kondisi lelah disebut dapat menurunkan kemampuan respons secara signifikan dan meningkatkan risiko kecelakaan.
“Biasanya di tiga sampai empat jam pertama pengemudi mulai letih, kalau diteruskan masuk ke fase ngantuk berat, di titik inilah microsleep terjadi,” ujar Sony.
Baca Juga:
Sepanjang Tahun 2025 Jasa Raharja Beri Santunan Korban Kecelakaan Rp3,22 Triliun
Ia menambahkan bahwa posisi duduk yang statis dalam waktu lama membuat otak kehilangan rangsangan sehingga tidak mampu merespons situasi darurat dengan cepat.
“Ada perbedaan antara mengantuk dan microsleep, saat mengantuk yang tidur mata, tapi saat microsleep yang tidur adalah otaknya,” ucap Sony.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.