WahanaNews.co, Jakarta - Indonesia tidak pernah kekurangan talenta. Tantangannya kerap terletak pada akses panggung yang belum merata. Dalam konteks inilah Sumatera Utara (Sumut) kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat kelahiran seniman paling produktif di Tanah Air. Dari lorong-lorong kota Medan, daratan tinggi Karo, hingga Nias dan kawasan Danau Toba, musik telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan masyarakatnya.
Gambaran tersebut kembali terlihat pada awal 2026 melalui kesuksesan rangkaian nasional “Aice Got You! Panggung Crispymu!” yang digelar di Lapangan Merdeka, Medan. Ajang ini menjadi bukti konkret bahwa talenta daerah memiliki kualitas setara dengan standar industri nasional, sekaligus menawarkan solusi atas tantangan lama dunia kreatif Indonesia yang kerap terpusat di Jakarta.
Baca Juga:
Batam Salurkan Bantuan Rp4,7 Miliar untuk Korban Bencana di Sumut, Diterima Langsung Gubernur Bobby
Kehadiran panggung truk ikonik Aice di Medan bukan sekadar hiburan, melainkan pernyataan tentang pentingnya pemerataan ruang ekspresi. Dengan mendekatkan panggung berstandar nasional ke daerah, hambatan jarak dan biaya yang selama ini membatasi talenta lokal mulai terurai.
Rangkaian “Aice Got You! Panggung Crispymu!” sendiri menempuh perjalanan panjang lintas kota, dimulai dari Jakarta, berlanjut ke Bandung dan Yogyakarta, singgah di Medan, sebelum ditutup di Surabaya. Di setiap kota, panggung ini menjelma menjadi ruang eksperimentasi kreatif yang mempertemukan talenta akar rumput dengan mentor profesional, sekaligus memperluas ekosistem industri kreatif yang lebih inklusif.
Melalui lima kota strategis tersebut, Aice membangun jembatan bagi generasi muda untuk merasakan atmosfer panggung nasional, mendapatkan pembinaan langsung, dan membuktikan bahwa bintang masa depan dapat lahir dari sudut mana pun di Indonesia.
Baca Juga:
Pemprov Sumut Sigap: Bantuan Cepat untuk Wilayah Terdampak Bencana
Sumatera Utara, Gudang Bakat yang Tak Pernah Kering
Secara kultural, Sumatera Utara memiliki posisi yang unik. Beragam etnis di wilayah ini—Batak Toba, Karo, Mandailing, Simalungun, Pakpak—memiliki keterikatan emosional yang kuat dengan seni pertunjukan. Tradisi ber-umpasa, bernyanyi dalam harmoni koor, dan bermusik telah diperkenalkan sejak usia dini, menjadikan musik bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari ritus kehidupan.
Di pesisir timur, etnis Melayu menghadirkan kelembutan melalui pantun dan musik gambus, sementara masyarakat Nias dikenal dengan kekuatan vokal dan tari perang yang ekspresif. Tak mengherankan jika Sumatera Utara secara konsisten menyumbang peserta dan finalis dalam berbagai ajang pencarian bakat nasional.