Setiap tahun, ribuan seniman muda lahir dari komunitas musik jalanan, gereja, sanggar budaya, hingga sekolah seni di Medan. Namun, hanya sebagian kecil yang memperoleh kesempatan tampil di panggung dengan standar produksi besar.
Kontribusi Sumatera Utara terhadap industri musik nasional pun telah teruji oleh waktu. Sejumlah nama legendaris seperti Diana Nasution, Eddy Silitonga, dan Victor Hutabarat menjadi fondasi sejarah musik Indonesia. Estafet ini diteruskan oleh generasi berikutnya, mulai dari Judika dan Virzha hingga para diva muda seperti Lyodra Ginting dan Anggi Marito.
Baca Juga:
Batam Salurkan Bantuan Rp4,7 Miliar untuk Korban Bencana di Sumut, Diterima Langsung Gubernur Bobby
Deretan nama tersebut menjadi bukti bahwa “genetika seni” Sumatera Utara tetap hidup dan relevan, menjadikan setiap inisiatif panggung lokal di wilayah ini sebagai langkah strategis dalam menjaring talenta masa depan.
Ketika Kulcapi Bertemu EDM
Keunikan talenta Sumatera Utara tergambar jelas di atas panggung “Panggung Crispymu!”. Salah satu momen paling mencuri perhatian datang dari Jacky Raju Sembiring, yang keluar sebagai juara lewat eksperimen berani memadukan dawai kulcapi dan suling khas Karo dengan irama Electronic Dance Music (EDM) serta lagu-lagu pop global.
“Di ajang ini saya ingin menunjukkan bahwa musik tradisional itu tidak kalah keren. Medan kaya akan budaya, dan saya ingin alat musik tradisional Karo dikenal lebih luas, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga mancanegara,” ujar Jacky.
Penampilannya menjadi simbol dialog antara tradisi dan modernitas—bagaimana instrumen lokal dapat beradaptasi dan berbicara dalam bahasa musik masa kini di atas panggung modern.
Baca Juga:
Pemprov Sumut Sigap: Bantuan Cepat untuk Wilayah Terdampak Bencana
Selain Jacky, panggung Medan juga menghadirkan Chessavani yang tampil memukau dengan teknik vokal matang dan kedalaman emosi, serta grup dance PLAYMAKERZ yang merepresentasikan energi urban melalui koreografi presisi. Ajang ini pun menegaskan inklusivitasnya lewat Hendro Sutomo, seorang dosen yang terpilih sebagai Juara Favorit, membuktikan bahwa ruang berekspresi terbuka bagi siapa saja, lintas usia dan profesi.
Melalui panggung seperti ini, Sumatera Utara kembali menunjukkan bahwa ia bukan sekadar penonton dalam industri kreatif nasional, melainkan salah satu sumber utama lahirnya inovasi dan bintang baru musik Indonesia.
[Redaktur: Alpredo]