WAHANANEWS.CO, Jakarta - Gelombang pulang kampung saat Lebaran selalu terasa seperti ritual nasional yang tak tertulis, jutaan orang bergerak serempak meninggalkan kota besar menuju desa asal.
Namun tak banyak yang sadar bahwa kata “mudik” yang begitu akrab di telinga ternyata memiliki cerita panjang yang berakar dari budaya sungai, sejarah perantauan, hingga perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia.
Baca Juga:
Tips Rumah Aman saat Ditinggal Liburan
Fenomena mudik setiap musim Lebaran kembali diprediksi memicu perpindahan besar-besaran masyarakat dari kota ke daerah asal pada libur Idul Fitri tahun ini, sebuah tradisi yang seolah tak pernah absen dari kalender sosial Indonesia.
Menurut penjelasan dari situs Indonesia Baik milik Kementerian Komunikasi dan Informatika, istilah mudik ternyata berasal dari ungkapan dalam bahasa Jawa yaitu “mulih dilik” yang secara harfiah berarti pulang sebentar.
Definisi lain juga tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang menjelaskan mudik sebagai aktivitas pergi ke daerah udik atau pedalaman sekaligus pulang ke kampung halaman.
Baca Juga:
7 Tips Hemat Baterai Gadget saat Perjalanan Liburan
Penjelasan yang lebih menarik datang dari kajian akademik di Universitas Gadjah Mada yang menelusuri asal-usul kata tersebut secara etimologis.
“Berasal dari bahasa Melayu, udik. Konteksnya pergi ke muara dan kemudian pulang kampung,” ujar antropolog Heddy Shri Ahimsa-Putra dari Universitas Gadjah Mada, melansir CNBC.
Istilah udik dalam bahasa Melayu sendiri merujuk pada hulu atau ujung sungai, sebuah konsep geografis yang pada masa lalu berkaitan erat dengan jalur transportasi dan pola permukiman masyarakat Nusantara.