Bung Karna mengatakan, pemerintah menyediakan lima kuintal untuk pupuk berimbang. Rinciannya, Pupuk Urea sebanyak dua kuintal, phonska dua kuintal dan TSP satu kuintal.
“Jika semua petani menggunakan pupuk berimbang, maka pupuk urea tidak akan langka,” ucap pria asal Kecamatan Arjasa itu.
Baca Juga:
Optimalisasi Penggunaan DBHCHT Senilai Rp 372 Miliar, Ini 4 Poin yang Menjadi Prioritas Kabupaten Pasuruan
Selain itu, Bung Karna mengaku, akan memfasilitasi petani atau kelompok petani yang memiliki luas lahan 20 hektare untuk dijadikan klaster penggunaan pupuk organik. Bahkan, biaya bibit dan pupuk menjadi tanggungjawab pemerintah.
“Ini saya tawarkan kepada masyarakat untuk melakukan pertanian organik. Dan, kita akan terus mendorong serta berusaha memajukan pertanian di Situbondo,” ucap mantan Kadis Pertanian Bondowoso itu.
Sementara itu, Bung Karna mengatakan, pemerintah daerah telah berhasil menciptakan bibit padi unggulan sendiri yang diberi nama bibit Bung Karna (BK) Situbondo. Sudah melalui tahapan uji kelayakan produksi dan tempat. Hanya saja masih menunggu legalitas dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).
Baca Juga:
Optimalisasi DBHCHT Senilai Rp372 Miliar, Kabupaten Pasuruan Prioritaskan 4 Poin Ini
“Keunggulan BK Situbondo memiliki masa tanam tercepat, yakni 70 hari pasca tanam. Sedangkan bibit padi lain membutuhkan waktu selama 90 hingga 100 hari,” ungkapnya.
Kata dia, petani bisa untung lebih untuk ketika menggunakan bibit BK. Sebab, dalam satu tahun bisa panen sebanyak empat kali. “Bibit BK memiliki potensi bagus untuk petani dan kesejahteraan hidupnya.. Karena bibit adalah masa depan petani yang menguntungkan,” jelasnya. [ast]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.