Sementara jembatan Anggoli yang menjadi batas wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah dengan Tapanuli Selatan, putus dihantam arus sungai dan kayu yang hanyut. Sama dengan jembatan Pandan yang juga terputus dihantam arus dan kayu yang hanyut.
Setali tiga uang, jalan Nasional Sibolga-Tarutung juga tidak bisa dilintasi. Amblas, retak, dan badan jalan tertimbun material longsor terjadi pada pukuhan titik.
Baca Juga:
Akibat Bencana Perusahaan Banyak Tutup, Masyarakat Terancam PHK
Tidak hanya antar kabupaten dan kecamatan, arus transportasi antar desa juga banyak yang terputus. Belasan hingga puluhan jembatan roboh diterjang banjir.
Beberapa desa yang saat ini terkonfirmasi terisolasi yakni, Desa Pagaran Honas Kecamatan Badiri, Desa Sibiobio, Desa Muara Sibuntuon dan Desa Hutagurgur, Kecamatan Sibabangun, serta Desa Lumut Maju dan Lumut Nauli Kecamatan Lumut
Baca Juga:
Misa Malam Natal di Tenda Pengungsian: Khidmat dan Penuh Semangat Kebersamaan
Tapteng semakin gelap dan berantakan dengan matinya listrik pada tiga hari terakhir. Informasi yang didapat, padamnya listrik akibat banyaknya tiang milik PLN yang tumbang.
Koordinasi antara stakeholder terkait juga tidak bisa dilakukan. Disamping jalur transportasi darat yang terputus, hilangnya jaringan internet membuat koordinasi tidak dapat dilakukan. Warga terdampak banjir dan longsor hanya mengambil inisiatif tanpa ada komando dari pemerintahan setempat.
Salah satunya di Kecamatan Sibabangun, Ratusan warga Desa Simanosor, Desa Hutagurgur, dan Desa Anggoli mengungsi ke Kantor Kecamatan Sibabangun. Warga sekitar kompleks kantor kecamatan membantu pengungsi dan menempatkannya di aula pertemuan kecamatan dan rumah dinas camat.