Gubernur Khofifah menjelaskan pada aspek lingkungan green port atau pelabuhan hijau dapat menekan emisi karbon dengan mengoptimalkan penggunaan listrik, energi terbarukan, dan alat pelabuhan berbasis listrik mengurangi polusi udara.
Kemudian penggunaan lampu LED, cold ironing untuk kapal sandar, dan manajemen energi yang lebih hemat menjadi bentuk efisiensi energi.
Baca Juga:
Menko Zulhas Tegaskan Sekolah Bagus Gak Usah Dapat MBG
"Pengelolaan limbah yang lebih baik dengan memaksimalkan sistem daur ulang dan pengolahan sampah menjadi kompos bisa menjadi ikhtiar pelestarian ekosistem laut dan pesisir," katanya.
Pada aspek teknologi dan operasional smart port, didukung dengan otomatisasi bongkar muat, tracking kontainer yang real time menggunakan sistem digital menjadi salah satu upaya efisiensi yang dapat memangkas waktu dan biaya.
Transparansi dan kemudahan layanan dilakukan dengan perizinan online, pembayaran cashless, dan single window system untuk mempercepat arus barang.
Baca Juga:
Komisi IX Soroti Bengkaknya Titik SPPG, Pemerintah Diminta Audit Total
Sementara pada aspek ekonomi dan daya saing dioptimalkan dari percepatan waktu sandar sehingga mampu menekan biaya logistik. Khofifah mengatakan pelabuhan yang modern ramah lingkungan tentu akan menjadi magnet tersendiri bagi investor dan pelayaran internasional.
"Ini akan membutuhkan tenaga ahli di bidang tersebut, menciptakan lapangan kerja baru, mendukung rantai pasok nasional sehingga arus barang lebih lancar, harga barang lebih stabil," jelasnya.
Sementara itu Menko Zulhas mengatakan bahwa ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh hasil produksi. Sistem logistik yang andal juga menjadi kunci agar pangan dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara efektif dan efisien.