WAHANANEWS.CO, Jakarta - Banjir kembali mengepung Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, membuat pemerintah daerah dan warga terpaksa berjaga sepanjang malam di tengah hujan yang tak kunjung reda pada Rabu (11/2/2026).
Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu menyampaikan bahwa hingga malam hari wilayah terdampak masih diguyur hujan dengan intensitas tinggi sehingga kondisi belum sepenuhnya aman.
Baca Juga:
Banjir Meluas di Kabupaten Bekasi, 41 Desa Terendam dan Ribuan Warga Mengungsi
"Kondisi hingga malam ini masih terus dilanda hujan, dan kami masih terus bersiaga," ungkap Masinton Pasaribu lewat pesan singkat, Rabu malam.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah daerah telah mengevakuasi warga ke sejumlah lokasi yang dinilai lebih aman untuk menghindari risiko korban jiwa.
"Hingga malam ini saya masih di lokasi banjir, dan masyarakat sudah kita evakuasi, juga kita imbau untuk menghindari dari daerah banjir," ucapnya.
Baca Juga:
BMKG: Risiko Banjir Jakarta Meningkat Jadi Dua hingga Tiga Kali Lipat
Masinton juga mengingatkan warga agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana lanjutan, terutama tanah longsor di wilayah rawan.
"Untuk daerah-daerah yang terdampak, masih kita kumpulkan, dan kami masih terus memantau kondisi terkini terhadap titik-titik banjir," katanya.
Banjir dilaporkan kembali melanda Kabupaten Tapanuli Tengah, tepatnya di Kecamatan Tukka, sejak Rabu (11/2/2026) sore setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Curah hujan yang tinggi menyebabkan air sungai meluap hingga merendam jalan-jalan utama serta permukiman warga di sejumlah titik.
Masinton menyebut wilayah Tapanuli Tengah dan sekitarnya berada dalam kondisi hujan lebat yang memicu peningkatan debit air sungai.
"Kondisi cuaca hari ini, tepatnya di Kecamatan Tukka, sedang hujan deras, dan mengakibatkan debit air sungai di Kelurahan Hutanabolon meningkat," ujarnya lewat pesan singkat.
Ia menuturkan derasnya aliran sungai menyebabkan tanggul-tanggul yang sebelumnya telah dinormalisasi pascabanjir kembali jebol.
"Curah hujan tinggi, kondisi sungai yang dilebarkan dan tanggul darurat tidak mampu menampung debit air," ujarnya.
Air sungai yang meluap akhirnya menggenangi jalan serta masuk ke kawasan permukiman warga sehingga memaksa proses evakuasi kembali dilakukan.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]