WAHANANEWS.CO, Jakarta - Dua pesawat Boeing tua yang terparkir tanpa kejelasan pemilik selama 20 tahun di kawasan PT Dirgantara Indonesia kini berpeluang hidup kembali sebagai wahana edukasi.
PT Dirgantara Indonesia atau PTDI berencana memanfaatkan dua pesawat jenis Boeing 737-200 PK-IJI dengan MSN-22125 dan PK-IJJ dengan MSN-22130 sebagai sarana promosi sekaligus edukasi bagi masyarakat.
Baca Juga:
Presiden Jokowi Apresiasi Kepercayaan Filipina pada Produk Alutsista Buatan Indonesia
Dua pesawat tersebut telah berada di area PTDI sejak 2005, namun hingga kini status kepemilikannya masih belum jelas.
PTDI masih terus menelusuri pihak yang berhak atas dua pesawat itu sebelum mengambil langkah lanjutan melalui jalur hukum.
Berbagai upaya pencarian pemilik telah dilakukan, mulai dari mendatangi kantor PT ANI yang kini sudah berganti nama hingga menghadirkan kurator dari PT Bouraq yang telah pailit.
Baca Juga:
Ini Spesifikasi Helikopter Sikorsky S-70 Black Hawk yang Dipesan Menhan Prabowo
PTDI juga menelusuri kemungkinan keterkaitan dengan PT PAN, perusahaan BUMN yang sudah diobligasikan, serta mengumumkan informasi pencarian pemilik melalui media sosial.
Manager Komunikasi Perusahaan dan Hubungan Kelembagaan PT Dirgantara Indonesia Adi Prastowo mengatakan pihaknya akan menempuh proses legal apabila tidak ada pihak yang mengaku sebagai pemilik sah.
"Setelah kita menempuh jalur legal, setelah unsur-unsur legal terpenuhi, pesawat ini sepenuhnya di bawah kendali PTDI," kata Adi, beberapa waktu lalu.
Setelah proses hukum terpenuhi, PTDI berencana menguasai dua pesawat tersebut untuk kepentingan yang dinilai positif dan bermanfaat.
"Selanjutnya ada beberapa opsi yang akan dilakukan PTDI, ini bisa dijadikan media promosi," ujarnya.
Menurut Adi, keberadaan pesawat tak bertuan itu juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan edukasi publik tentang dunia kedirgantaraan.
"Bisa juga dijadikan media edukasi, salah satu wahana edutainment PTDI," tambahnya.
Kondisi dua pesawat tersebut saat ini tidak lagi utuh karena hanya menyisakan bagian badan pesawat.
Bagian mesin pada pesawat tersebut sudah tidak ada, sehingga PTDI menilai pemanfaatannya lebih tepat diarahkan sebagai sarana edukasi dibandingkan untuk kebutuhan operasional penerbangan.
"Ini bisa dimanfaatkan dan berguna bagi masyarakat," tuturnya.
Adi menjelaskan dua pesawat misterius itu dulunya bukan digunakan sebagai pesawat penumpang komersial.
"Pesawat Bouraq ini digunakan armada kargo yang beroperasi di Indonesia," pungkasnya.
Dengan rencana tersebut, dua pesawat yang selama puluhan tahun hanya terparkir tanpa kejelasan kini berpeluang menjadi ruang pembelajaran baru bagi masyarakat yang ingin mengenal industri penerbangan dan kedirgantaraan.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]