WahanaNews.co | 163 siswa sekolah dasar (SD) di perbatasan Indonesia-Timor Leste mulai menjalani vaksinasi Covid-19. Vaksinasi digelar di SD Katolik Halibete di Kecamatan Lasiolat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (9/2).
Petugas vaksinasi sempat dibuat kewalahan, karena tidak sedikit pelajar yang meronta, menangis bahkan melarikan diri saat hendak disuntik.
Baca Juga:
Kapolda Jambi Jalin Silaturahmi dengan Pondok Pesantren Darul Arifin, Tekankan Pendidikan Disiplin dan Pemanfaatan Teknologi Secara Positif
Para guru maupun orang tua serta pendamping harus membujuk anak-anak tersebut, karena sebagian besar takut dengan jarum suntik.
Karena anak-anak mereka menangis, ada orang tua yang ragu dan gugup, seperti yang dialami oleh Agrapina Da Silva.
Dia merasa lega ketika anaknya selesai disuntik, karena awalnya sang anak tidak mau divaksin setelah melihat teman-temanya menangis ketakutan. Namun semuanya harus dilakukan demi mencegah penularan Covid-19.
Baca Juga:
Kadis Kesehatan DKI Minta Warga Waspadai Penularan Campak Saat Silaturahmi Lebaran
"Awalnya takut tapi setelah anak saya selesai disuntik rasanya lega," kata Agrapina Da Silva.
Ia menambahkan, vaksinasi bagi anak-anak harus dilakukan agar pembelajaran tatap muka di sekolah bisa berjalan sesuai harapan. Apalagi saat ini marak penyebaran Covid-19 varian Omricon.
Kepala Sekolah SD Katolik Halibete, Agustinus Atok mengatakan, yang menerima vaksin tahap pertama adalah siswa siswi kelas satu hingga enam dengan usia enam hingga 11 tahun.
"Ini baru pertama kali sehingga anak-anak takut. Tapi nanti sebelum tahap kedua, kita akan memberikan penjelasan kepada anak-anak untuk tidak takut lagi divaksin, agar tidak terpapar virus Covid-19," jelasnya.
Vaksinasi dipantau oleh Bupati Belu Taolin Agustinus. Pelajar yang telah disuntik vaksin diberikan bingkisan. [qnt]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.