Terpisah, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyebut ada delapan perusahaan yang diduga berkontribusi memperparah banjir di Sumut.
Ia mengatakan delapan perusahaan itu terdiri atas perusahaan tanaman industri, tambang emas hingga perusahaan sawit. Hanif mengatakan mereka beraktivitas di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Batang Toru, Tapanuli Selatan.
Baca Juga:
Banjir Terjang Tiga Kabupaten di NTB, Satu Warga Lombok Timur Meninggal Dunia
Hanif mengatakan temuan ini juga terkonfirmasi dari hasil analisa citra satelit. Deputi Penegakan Hukum Kementerian LH pun telah melayangkan panggilan kepada delapan perusahaan tersebut.
Ia menjelaskan panggilan itu untuk meminta penjelasan dari delapan perusahaan terkait asal-usul kayu-kayu yang hanyut saat hujan deras di Sumut.
"Kami minta mereka menjelaskan semua persoalannya termasuk menghadirkan citra satelit resolusi sangat tinggi pada saat kejadian supaya bisa membuktikan ini kayu itu dari mana asalnya sehingga citra satelit itu harus dibawa ke kita untuk kita rumuskan," ucap dia.
Baca Juga:
Hujan Lebat Picu Banjir di Sukoharjo dan Wonogiri, Satu Warga Meninggal
Ketua MPR Ahmad Muzani juga turut buka suara perihal isu ini. Ia mengatakan gelondongan kayu yang terbawa banjir bandang yang videonya viral di media sosial merupakan hasil penebangan yang telah lama berlalu.
Muzani sangsi kayu-kayu berukuran besar itu merupakan pohon yang roboh akibat badai.
"Kalau dari lihat gambar-gambar dan foto-foto yang kami saksikan, entah di Aceh, entah di Sumatra Utara, sepertinya kayu-kayu yang hanyut itu kayu-kayu hasil tebangan itu, yang cukup lama, bukan kayu-kayu yang ditebang baru-baru atau kayu-kayu yang roboh karena terjangan badai," kata Muzani di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (2/12).