Ia menjelaskan teknologi robotik 3D printing mampu menghasilkan bentuk-bentuk geometris yang rumit dengan tingkat presisi tinggi, sehingga berpotensi digunakan dalam pembangunan dinding, elemen arsitektur, hingga furniture dengan desain kompleks yang sulit dikerjakan secara manual.
Di sejumlah negara seperti Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, teknologi tersebut bahkan telah digunakan untuk mencetak bangunan berukuran penuh dalam waktu relatif singkat menggunakan robot berkapasitas besar.
Baca Juga:
Unjukrasa Majelis Khodijathur Soal Homoseksual yang Diunggah BEM Psikologi UI versus Bungkusan Akademik
Sementara di Indonesia, penerapan robotik 3D printing masih berada pada tahap awal. Menurut Miktha, baru sedikit perusahaan yang memiliki teknologi tersebut, sehingga pengembangannya masih didominasi proses uji coba dan penelitian.
"Perkembangannya di Indonesia masih sangat jauh. Jumlah perusahaan yang memiliki robot untuk concrete 3D printing masih bisa dihitung dengan jari. Selain itu, regulasi dan standar teknisnya juga belum tersedia sehingga masih berada pada tahap trial and error," ungkapnya.
Meski demikian, beberapa proyek percontohan telah dibangun di Indonesia, antara lain di Lampung dan Bogor, menggunakan teknologi concrete 3D printing. Bangunan tersebut masih sebatas proyek demonstrasi dan belum diproduksi secara massal untuk kebutuhan pasar.
Baca Juga:
Tudingan Normalisasi LGBT di UI oleh Ormas: Pihak Kampus Tegaskan Hanya Kajian Akademik
Miktha menilai perkembangan teknologi robotik akan berlangsung sangat cepat sehingga dunia pendidikan, industri, dan pemerintah perlu memperkuat kolaborasi dalam penyusunan regulasi maupun pengembangan sumber daya manusia agar Indonesia tidak tertinggal.
"Teknologi berkembang sangat cepat. Akademisi, industri, dan pemerintah perlu segera berdiskusi untuk menyusun standar dan regulasi. Kalau tidak, kita akan semakin tertinggal dibanding negara-negara lain yang sudah lebih dulu mengembangkan teknologi ini," ujarnya.
Sebagai bagian dari penguatan kompetensi mahasiswa, Departemen Arsitektur UI juga telah memasukkan materi digital fabrication serta physical and digital architecture ke dalam kurikulum. Melalui mata kuliah tersebut, mahasiswa dikenalkan dengan teknologi seperti 3D printing, 3D scanning, hingga computational design, sehingga lebih siap menghadapi kebutuhan industri arsitektur yang semakin terdigitalisasi.