WAHANANEWS.CO, Jakarta Selatan – Fenomena menjamurnya penggunaan pinjaman online, PayLater, hingga budaya belanja impulsif di kalangan generasi muda kini menjadi sorotan serius dunia pendidikan dan industri keuangan. Di tengah derasnya arus digital, utang bahkan dinilai tak lagi terasa menakutkan, melainkan berubah menjadi sesuatu yang dianggap lumrah bahkan “menyenangkan”.
Kondisi inilah yang menjadi perhatian dalam kegiatan bertajuk “Literasi Fintech: Anak Muda Smart Financial User” yang digelar Universitas Al-Azhar Indonesia bersama Jaringan Pegiat Literasi Digital, ASPIKOM, dan Trimegah Sekuritas di Jakarta Selatan, Jumat (22/5/2026).
Baca Juga:
Kredivo Digugat Karyawan, Dianggap Semena-mena
Rektor Widodo Muktiyo menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kualitas hidup, bukan malah menyeret generasi muda ke jebakan finansial.
“Jadilah influencer yang memberikan oksigen, yang sehat dan mencerdaskan. Gunakan teknologi dan literasi finansial untuk membangun peradaban finansial yang sehat dan cerdas,” ujar Widodo kepada wartawan usai acara.
Ia mengingatkan mahasiswa agar memanfaatkan kemajuan teknologi secara bertanggung jawab, termasuk dalam mengelola keuangan di era fintech yang serba instan.
Baca Juga:
Al-Azhar Resmikan Prodi S1 Bahasa Indonesia, 350 Mahasiswa Mesir Langsung Pilih Jurusan Ini
Sementara itu, dosen Universitas Mercu Buana, Engga Probi Endri, menilai literasi fintech kini bukan sekadar kemampuan memahami aplikasi keuangan digital, melainkan benteng pertahanan terhadap jebakan utang dan manipulasi platform digital.
“Pahami sebelum pakai. Literasi fintech bukan lagi sekadar pilihan, melainkan bentuk pertahanan diri terbaik terhadap jebakan utang dan penipuan,” tegasnya.
Menurut Engga, banyak anak muda merasa aman menggunakan cicilan digital karena nominalnya terlihat kecil. Padahal tanpa disadari, akumulasi transaksi kecil itu dapat berubah menjadi bom waktu finansial.