Sorotan lebih tajam disampaikan Devie Rahmawati dari Program Vokasi Universitas Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa generasi muda saat ini hidup di era ketika utang tidak lagi menghadirkan “rasa sakit” dalam bertransaksi.
“Kalau dulu dompet kosong membuat orang berhenti belanja, hari ini notifikasi justru membuat orang lanjut checkout. Banyak anak muda tidak sadar sedang masuk dalam ‘frictionless economy’, yaitu sistem ekonomi digital yang membuat proses berhutang terasa ringan, cepat, dan hampir tanpa hambatan psikologis,” ungkap Devie.
Baca Juga:
Kredivo Digugat Karyawan, Dianggap Semena-mena
Peneliti kecanduan digital itu juga membongkar bagaimana media sosial dan marketplace modern bekerja bukan hanya menjual produk, tetapi juga memainkan emosi pengguna.
“Kadang yang dibeli bukan barang. Yang dibeli adalah rasa dianggap. Algoritma digital bekerja mempelajari emosi pengguna, termasuk kapan seseorang sedang sedih, lelah, kesepian, atau merasa tertinggal dibanding lingkungan sosialnya. Hari ini algoritma tidak hanya tahu apa yang kalian suka. Algoritma mulai tahu kapan kalian sedang rapuh,” katanya di hadapan puluhan mahasiswa.
Dalam sesi diskusi interaktif, Devie juga menyoroti fenomena anak muda yang terjebak budaya pencitraan demi terlihat sukses di media sosial.
Baca Juga:
Al-Azhar Resmikan Prodi S1 Bahasa Indonesia, 350 Mahasiswa Mesir Langsung Pilih Jurusan Ini
“Masalah terbesar generasi muda hari ini bukan tidak bisa mencari uang, tetapi terlalu cepat merasa punya uang. Banyak orang hari ini terlihat kaya, tapi tidur ditemani cicilan,” sindirnya.
Ia menegaskan bahwa literasi finansial modern harus mengajarkan kemampuan mengendalikan impuls serta memahami manipulasi psikologis di era digital.
“Masa depan finansial anak muda tidak hanya ditentukan oleh berapa besar pendapatannya, tetapi oleh kemampuan untuk berkata: cukup!” tegas Devie.