Salah satu faktor utama tingginya angka underemployment adalah ketidaksesuaian antara sistem pendidikan dan kebutuhan industri yang terus berkembang.
Jumlah lulusan sarjana dinilai lebih banyak dibandingkan ketersediaan pekerjaan yang relevan, sementara banyak program studi masih berfokus pada teori akademik dan belum sepenuhnya menyesuaikan diri dengan tuntutan keterampilan teknis serta digital di dunia kerja modern.
Baca Juga:
Dear Calon Mahasiswa 2026, Ini Jurusan Kuliah dengan Prospek Kerja dan Gaji Tinggi
Menariknya, terdapat 11 jurusan dengan tingkat underemployment cukup tinggi, di mana sembilan di antaranya berasal dari rumpun ilmu sosial atau IPS dan hanya dua dari jurusan IPA.
Data ini memang bersumber dari survei di Amerika Serikat sehingga hasilnya dapat berbeda di setiap negara, namun tetap memberi gambaran bahwa persaingan kerja di berbagai sektor industri sangat kompetitif.
Berikut sembilan jurusan IPS yang lulusannya tercatat memiliki tingkat underemployment tinggi berdasarkan laporan Federal Reserve Bank of New York.
Baca Juga:
Jurusan Kuliah Paling Disesali Lulusan di 2025, Jurnalistik di Posisi Teratas
• Peradilan Kriminal (Criminal Justice)
Jurusan ini mencatat tingkat underemployment tertinggi, yakni mencapai 67,2 persen, karena banyak pekerjaan di sektor penegakan hukum di Amerika Serikat hanya mensyaratkan pelatihan teknis atau sertifikasi khusus tanpa harus menempuh pendidikan S1 penuh.
Di Indonesia, bidang ini umumnya terintegrasi dalam program studi Kriminologi atau Studi Peradilan Pidana, dan lulusannya masih memiliki peluang mengikuti seleksi seperti SIPSS Polri maupun Perwira Prajurit Karier TNI yang memang diperuntukkan bagi lulusan sarjana.