WAHANANEWS.CO, Jakarta - Perusahaan ritel kerajinan tangan Joann Inc. akan menutup seluruh tokonya setelah gagal menemukan pembeli yang bersedia mempertahankan sebagian dari 800 lokasi ritelnya.
Pengecer yang telah beroperasi selama 82 tahun ini akhirnya mengajukan kebangkrutan akibat tekanan finansial yang tak teratasi.
Baca Juga:
Pengusaha Ritel Ancam Buat Minyak Goreng Langka Lagi di Pasaran
Menurut laporan Reuters pada Selasa (25/2/2025), perusahaan yang berbasis di Ohio, Amerika Serikat, berencana menjual seluruh asetnya.
Para pembeli yang akan mengambil alih aset tersebut termasuk para pemberi pinjaman serta sebuah perusahaan investasi bernama GA Group.
Joann semula berharap menemukan pembeli yang bersedia mempertahankan operasional bisnisnya. Namun, penawar tertinggi justru berencana menghentikan seluruh aktivitas penjualan di semua toko. Perusahaan akan meminta persetujuan pengadilan untuk proses penjualan aset dalam sidang kebangkrutan yang dijadwalkan pada Rabu di Wilmington, Delaware.
Baca Juga:
Kapolres Humbahas Hadiri Hari Santri Nasional di Sekolah MTsN Desa Marade
"Kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga bisnis tetap berjalan," ujar Joann, yang didirikan pada 1943. Meski demikian, perusahaan menyatakan terus berupaya meminimalkan dampak penutupan toko terhadap karyawan, pelanggan, dan vendor selama beberapa minggu ke depan.
Joann pertama kali mengajukan kebangkrutan pada Januari 2024, tetapi berhasil mempertahankan seluruh tokonya tetap beroperasi setelah restrukturisasi yang menghapus utang sebesar USD 505 juta.
Namun, pada Januari 2025, perusahaan kembali mengajukan kebangkrutan—hanya dalam kurun waktu kurang dari setahun—akibat tekanan keuangan yang diperparah oleh gangguan rantai pasokan.
Hingga awal 2025, Joann memiliki 800 toko dengan inventaris senilai USD 538,3 juta serta mempekerjakan 19.000 karyawan di 49 negara bagian AS.
Perusahaan juga tercatat memiliki utang sebesar USD 615,7 juta (sekitar Rp 10 triliun), dengan kewajiban lebih dari USD 133 juta kepada para pemasok serta pengeluaran bulanan sebesar USD 26 juta untuk biaya sewa toko.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]