WAHANANEWS.CO, Jakarta - Peristiwa blackout yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera beberapa waktu lalu menjadi sinyal keras bagi seluruh pemangku kepentingan ketenagalistrikan nasional. Kejadian ini sebaiknya tidak dipandang sebagai gangguan teknis musiman, melainkan sebuah urgensi untuk merombak total keandalan sistem dari hulu ke hilir demi mencegah risiko serupa di masa depan.
Ketua Umum PLN Watch sekaligus Ketua Umum Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS), KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa pemadaman skala besar tersebut merupakan gejala klinis dari rapuhnya infrastruktur vital yang menuntut penguatan menyeluruh—mulai dari.dari keandalan jaringan transmisi, gardu induk, sistem proteksi, hingga standardisasi material konstruksi yang digunakan.
Baca Juga:
Bareskrim Polri Pastikan Penyebab Padam Listrik Sumatra Bukan Sabotase
Menurut Tohom, ketahanan energi nasional mustahil dicapai tanpa penerapan standar yang rigid dan konsisten di setiap rantai pasok infrastruktur kelistrikan.
“Blackout Sumatera harus menjadi momentum evaluasi nasional yang transformatif. Paradigma kita harus berubah: jangan lagi terjebak pada pemulihan pasca-kejadian (reactive approach), melainkan beralih total pada penguatan aspek pencegahan (preventive defense). Standardisasi material dan konstruksi ketenagalistrikan wajib menjadi prioritas strategis agar sistem kita tangguh menghadapi cuaca ekstrem maupun dinamika gangguan teknis,” tegas Tohom, Jumat (5/6/2026).
Tohom menilai, investasi pada keandalan sistem kelistrikan bukan lagi sebuah biaya (cost), melainkan investasi strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus pemenuhan hak dasar perlindungan konsumen.
Baca Juga:
Sistem Kelistrikan Sumatra Berangsur Normal, ALPERKLINAS: PLN Bergerak Cepat dan Terukur
Oleh karena itu, modernisasi jaringan transmisi, peningkatan mutu material, serta pengawasan ketat penerapan standar teknis di lapangan memerlukan komitmen politik dan anggaran yang nyata dari pemerintah.
“Sejarah mencatat, biaya pencegahan selalu jauh lebih murah daripada kerugian masif yang harus ditanggung negara dan masyarakat ketika sistem lumpuh,” ujarnya.
Efek Domino Terhadap Ketahanan Nasional
Dampak dari blackout berskala luas jauh melampaui padamnya lampu di rumah tangga. Listrik adalah urat nadi peradaban modern. Ketika pasokan terhenti dalam durasi yang lama, efek domino langsung menghantam sektor-sektor kritis: industri manufaktur macet, transaksi keuangan dan perbankan digital lumpuh, transportasi massal terhambat, hingga layanan kesehatan di rumah sakit terancam.
Lebih jauh, Tohom yang memiliki pengalaman luas di sektor ini memaparkan bahwa pemadaman massal di berbagai belahan dunia bahkan terbukti memicu eskalasi kerentanan keamanan nasional. Matinya sistem pengawasan elektronik di fasilitas publik kerap dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk tindakan ilegal dan kriminal.
“Saat listrik padam secara luas, detak nadi ekonomi melambat dalam hitungan menit. Transaksi digital terganggu, logistik mandek, dan sistem keamanan menjadi rapuh. Jadi, ini bukan sekadar masalah teknis padam lampu, ini adalah isu krusial yang menyangkut national security,” jelasnya.
Membangun Standardization Culture Kelas Dunia
Sebagai figur yang aktif mendukung program Badan Standardisasi Nasional (BSN) dan kerap diutus dalam forum internasional—seperti Committee on Consumer Policy (COPOLCO) di bawah International Organization for Standardization (ISO)—Tohom menekankan bahwa Indonesia harus segera mengadopsi standardization culture (budaya standar) sebagai fondasi pembangunan infrastruktur strategis.
Keterlibatannya dalam merumuskan kebijakan konsumen global memberinya perspektif kuat bahwa negara-negara maju memenangi kompetisi global karena disiplin pada standar.
“Standar adalah instrumen tertinggi dalam melindungi masyarakat. Di sektor kelistrikan, kepatuhan total pada standar global akan melahirkan sistem yang tidak hanya aman dan andal, tetapi juga memiliki daya tahan tinggi atau resilient terhadap guncangan. Investasi pada standardisasi adalah investasi untuk keselamatan publik dan masa depan bangsa,” kata Tohom.
Ia berharap pemadaman di Sumatera menjadi titik balik untuk mengakhiri toleransi terhadap kelonggaran standar teknis di lapangan.
“Semakin ketat standar yang kita terapkan, semakin kuat benteng perlindungan bagi masyarakat dan perekonomian nasional. Jangan biarkan blackout Sumatera berlalu begitu saja tanpa melahirkan lompatan besar bagi kemandirian energi Indonesia,” pungkasnya. [*]
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]