Kompetisi di tingkat daerah dinilai berperan penting sebagai sarana pembentukan mental dan pengalaman panggung bagi generasi muda, khususnya Gen Z. Dengan menghadirkan juri profesional seperti Brandon De Angelo dan Boiyen, peserta dapat menguji kemampuan tanpa harus menanggung beban biaya perjalanan ke Jakarta.
Brandon De Angelo menilai pengalaman tampil di panggung lokal merupakan investasi jangka panjang bagi talenta muda. “Setiap peserta punya karakter kuat. Harapannya, mereka terus berkarya dan tidak cepat puas, karena pengalaman di sini jauh lebih berharga daripada sekadar gelar,” ujarnya.
Baca Juga:
Kolaborasi Aice, STY Foundation & Saraswati Learning Center: Wujudkan Ruang Inklusif dan Kebahagiaan untuk Anak Berkebutuhan Khusus
Sementara itu, Boiyen menekankan pentingnya keberlanjutan proses berkarya. “Semoga pemenang bisa menjadi bintang baru dan tetap rendah hati. Bagi yang belum menang, jangan berhenti mencoba karena masih banyak kesempatan,” katanya.
Panggung Inklusif di Era Digital
Selain menghadirkan panggung fisik, Aice juga memperluas jangkauan acara melalui siaran live streaming di tiga platform media sosial. Penayangan daring ini berhasil menjaring ratusan ribu penonton, sekaligus membuka akses inspirasi bagi talenta dari berbagai daerah lainnya.
Baca Juga:
Raut Wajah Tersangka Vadel Badjideh, Saat Polisi Hadirkan dalam Konferensi Pers
Senior Brand Manager Aice Group, Sylvana Zhong, menyampaikan bahwa tingginya partisipasi sepanjang rangkaian acara menjadi indikator keberhasilan inklusivitas seni.
“Melihat ribuan orang dari Jakarta hingga Surabaya berani naik panggung, bernyanyi, atau menari adalah kemenangan tersendiri bagi kami. Ini bukan sekadar kompetisi, tetapi perayaan potensi setiap individu,” ujarnya.
Melalui inisiatif ini, Aice berharap pendekatan “menjemput bola” ke daerah dapat terus berlanjut. Pasalnya, potensi besar seni Indonesia tidak hanya terpusat di Jakarta, melainkan tersebar di berbagai penjuru nusantara, menunggu panggung untuk dihidupkan.