“Tiga tahun belakangan, minat terhadap burung semakin meningkat. Sekarang, dengan semakin banyaknya orang yang tertarik dengan pelestarian alam, tren burung kicau mania juga semakin semarak. Hal ini sangat berpengaruh terhadap penjualan,” kata dia.
Meski demikian, Nurhasanah mengaku masih menghadapi tantangan untuk memperluas pasar ke luar negeri. Salah satu kendala utama adalah tingginya biaya pajak ekspor.
Baca Juga:
Festival Lomba Burung Berkicau Dorong Ekonomi Komunitas dan UMKM
“Kesulitan kami saat ini kalau mau ke luar negeri, pajaknya terlalu tinggi,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah dapat terus memberikan perhatian terhadap para pelaku usaha di ekosistem hobi burung berkicau, mulai dari aspek pelestarian alam hingga keberlangsungan usaha para perajin.
“Saya berharap pemerintah memperhatikan pelestarian alam, perdagangan, dan para perajinnya sehingga seluruh siklusnya dapat berjalan dengan lancar dan baik,” tutur Nurhasanah.
Baca Juga:
Mendag Dorong Sinergi dengan Kadin Perkuat Perdagangan Nasional di Tengah Tantangan Global
Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai berkembangnya festival burung berkicau menjadi bukti bahwa ekonomi rakyat dapat tumbuh dari hobi yang dekat dengan masyarakat.
Menurut dia, industri burung berkicau menciptakan efek domino yang menggerakkan berbagai sektor usaha, mulai dari peternak, pengembangbiakan burung, pembuat sangkar, produsen pakan, hingga pedagang burung.
“Kalau lomba burung kicau semakin ramai, maka dampaknya adalah peternak semakin banyak, begitu juga pengembangbiakan, pembuat sangkar, pabrik pakan, dan penjual burungnya. Kami ingin nilai ekonomi dari hobi burung dapat terus meningkat,” kata Budi.