WahanaNews.co, Jakarta - Indonesia dan Pakistan memiliki hubungan historis yang kuat dalam perdagangan rempah-rempah yang berakar pada budaya, kuliner, dan industri tradisional, kata Wakil Menteri Perdagangan Indonesia Dyah Roro Esti Widya Putri pada Jumat (9/1).
Berbicara dalam forum business-to-business (B2B) dengan importir rempah Pakistan di Karachi, Roro mengatakan kedekatan historis tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat kerja sama perdagangan bilateral, khususnya di sektor rempah-rempah.
Baca Juga:
Wamendag Roro: Indonesia Buka Peluang Kerja Sama yang Lebih Luas dengan Pakistan
“Indonesia memiliki catatan panjang sebagai pusat perdagangan rempah dunia dan merupakan produsen rempah berkualitas tinggi,” ujar Roro saat membuka forum yang dihadiri oleh 10 importir rempah Pakistan.
Ia menambahkan Pakistan merupakan pasar yang dinamis dengan permintaan kuat terhadap rempah, baik untuk konsumsi domestik maupun untuk kebutuhan pengolahan berorientasi ekspor.
“Bagi Indonesia, Pakistan adalah pasar yang terus tumbuh. Hal ini menjadi dasar untuk memperkuat sinergi kedua negara,” katanya.
Baca Juga:
Indonesia Dorong Perluasan Kerja Sama CEPA dengan Pakistan
Pada 2024, nilai ekspor rempah Indonesia ke Pakistan tercatat sebesar 16,7 juta dolar AS. Meski secara umum tren ekspor selama periode 2020–2024 mengalami penurunan sebesar 2,65%, kinerja ekspor pada Januari hingga Oktober 2024 menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 42% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut didorong oleh peningkatan ekspor bunga pala sebesar 100%, pala 65%, dan cengkih 49%.
Indonesia tercatat sebagai pemasok rempah terbesar kelima bagi Pakistan pada 2024. Namun demikian, Roro menilai masih terdapat potensi besar yang belum dimanfaatkan.
“Angka ini menunjukkan peluang peningkatan perdagangan masih sangat terbuka. Dengan kolaborasi yang lebih erat, kita dapat memperluas pangsa pasar Indonesia sekaligus menciptakan manfaat nyata bagi kedua negara,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, Kementerian Perdagangan Indonesia bekerja sama dengan Konsulat Jenderal RI di Karachi menggelar sesi business matching pada 6 Januari. Acara yang dilaksanakan secara hibrida tersebut mempertemukan 10 perusahaan Indonesia dan delapan importir Pakistan, dengan kesepakatan awal berupa pengiriman sampel produk untuk peluang kerja sama lanjutan.
[Redaktur: Alpredo]