WAHANANEWS.CO, Jakarta - MARTABAT Prabowo-Gibran menyambut positif langkah konsolidasi perusahaan BUMN sektor logistik yang tengah diproses melalui pembentukan holding oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Kebijakan ini dinilai sebagai momentum penting untuk memperkuat sistem logistik nasional yang selama ini masih terfragmentasi dan berbiaya tinggi.
Baca Juga:
Usai Masjid Dirusak Konflik SARA Meluas, Pemerintah Nepal Tetapkan Jam Malam
Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, mengatakan bahwa integrasi lintas perusahaan BUMN di sektor logistik merupakan langkah strategis dalam membangun efisiensi dan daya saing nasional.
“Penggabungan ini akan menciptakan sistem yang lebih solid, di mana rantai distribusi dapat berjalan lebih cepat, transparan, dan terukur dari hulu hingga hilir,” ujar Tohom, Selasa (28/4/2026).
Ia menilai, selama ini banyak entitas logistik milik negara berjalan dengan sistem yang berbeda-beda, sehingga menimbulkan inefisiensi dalam operasional dan pembengkakan biaya distribusi.
Baca Juga:
Kabar Soal Kirim Kotak Logistik Kosong dengan Helibox, Ini Penjelasan TNI
Dengan adanya holding, menurutnya, akan terbentuk standar operasional yang seragam serta integrasi data yang lebih kuat untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis real-time.
“Indonesia sebagai negara maritim membutuhkan sistem logistik yang terintegrasi penuh. Jika perusahaan-perusahaan ini bisa disatukan dalam satu orkestrasi besar, maka biaya logistik nasional bisa ditekan secara signifikan, dan itu akan berdampak langsung pada harga barang serta daya beli masyarakat,” katanya.
Tohom juga melihat bahwa konsolidasi ini akan membantu menyeimbangkan kondisi keuangan antar entitas, terutama antara perusahaan yang selama ini mencatatkan laba dengan yang masih mengalami tekanan kinerja.
Dengan sinergi yang tepat, utilisasi aset dan armada dapat dioptimalkan sehingga menciptakan efisiensi lintas sektor.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini menambahkan bahwa langkah ini harus diikuti dengan integrasi sistem digital dan standardisasi layanan agar tidak hanya berhenti pada penggabungan struktural.
“Aglomerasi logistik tidak cukup hanya dengan menyatukan perusahaan, tetapi harus diiringi dengan sistem yang saling terhubung dan standar layanan yang konsisten agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh pelaku usaha dan masyarakat luas,” ujarnya.
Ia juga berpandangan bahwa keberhasilan holding logistik ini akan menjadi fondasi penting dalam mempercepat pembangunan kawasan industri, pelabuhan, serta konektivitas antar wilayah.
Dengan sistem distribusi yang efisien, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat logistik regional di kawasan Asia Tenggara.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]