Tampilan udara Gardu Induk (GI) 150 kV Tapak Tuan yang telah beroperasi di Aceh Selatan.
"Beroperasinya infrastruktur ini meningkatkan keandalan sistem dan berpotensi menghemat konsumsi bahan bakar minyak rata-rata sekitar 638,6 kiloliter per bulan dari pengurangan penggunaan pembangkit diesel. Trafo berkapasitas 30 MVA juga disiapkan untuk menopang pertumbuhan kebutuhan listrik sektor rumah tangga, bisnis, dan industri," jelas Dewanto.
Baca Juga:
Dorong Mobilitas Hijau, SPKLU Signature ZORA Hadir dengan Teknologi AI dan Ultra Fast Charging
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa dengan beroperasinya SUTT dan GI tersebut, Kabupaten Aceh Selatan tidak lagi bergantung pada jaringan tegangan menengah maupun pembangkit diesel sebagai sumber utama pasokan listrik.
Sejalan dengan itu, operasional PLTD Kota Fajar akan dihentikan secara bertahap.
“Stabilitas tegangan menjadi lebih terjaga, manuver beban saat gangguan lebih fleksibel, dan potensi pemadaman dapat ditekan secara signifikan,” lanjutnya.
Baca Juga:
Dari Gelap ke Terang: Program BPBL Hadirkan Listrik Mandiri bagi Keluarga Prasejahtera
Dewanto menambahkan, keberhasilan proses energize tidak terlepas dari dukungan penuh pemerintah daerah serta sinergi berbagai pihak.
Seluruh tahapan pembangunan telah dilaksanakan sesuai standar teknis yang berlaku, termasuk penerapan aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) guna memastikan keamanan pekerja maupun masyarakat sekitar.
“PLN memastikan setiap infrastruktur ketenagalistrikan dibangun secara andal, aman, dan berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Dewanto (Seremoadver).