Energi Terbarukan RI Jauh Tertinggal dengan Vietnam Saja Masih Kalah
WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) mencatat Indonesia masih tertinggal dalam pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). Tercatat, dalam satu dekade ini pengembangannya hanya mampu mencapai 0,5 Giga Watt (GW), berbeda dengan China yang mencapai 199 GW per tahun.
Baca Juga:
PLN Watch: Strategi Energi Berbasis Domestik Jadi Tameng Indonesia dari Krisis Global
Asisten Deputi Percepatan Transisi Energi, Kemenko Perekonomian, Farah Heliantina mulanya menyampaikan, bahwa energi menjadi salah satu sumber untuk mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi 8%.
Di mana, permintaan listrik nasional tentunya akan meningkat, yang diproyeksikan dari 411 Terawatt hour saat ini bisa menjadi hampir 600 Tera Watt hour pada 2030 atau setara 2.000 Tera Watt hour per kapita.
Realitanya saat ini, Indonesia masih mengandalkan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara, yang tercatat mencapai 60%. Sementara penambahan kapasitas EBT dalam satu dekade terakhir hanya 0,5 GW per tahun.
Baca Juga:
Direktur PLN Suroso Isnandar Terpilih Jadi Anggota MWA UGM Periode 2026–2031
"Dalam satu dekade terakhir ini hanya 0,5 Giga Watt per tahun dan ini menunjukkan kita masih tertinggal jauh tentunya kalau dari Tiongkok. Kita sangat jauh sekali Bapak-Ibu sekalian, 199 Giga Watt per tahun dibandingkan kita 0,5, ini gap-nya juga sangat-sangat besar," terang Farah dalam paparannya di acara Renewable Energy Zones (REZ) as an Enabling Instrument, Selasa (28/4/2026) melansir CNBC Indonesia.
Tak hanya China, Indonesia dikatakan masih tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga seperti Vietnam yang mencapai 3,3 GW.
"Di 2025 ini investasi global pada energi bersih sebenarnya cukup mengalami peningkatan yang signifikan mencapai US$2,15 triliun hampir dua kali lipat investasi dari bahan bakar fosil yang hanya US$ 1,15 triliun. Jadi sebenarnya kita sudah ada kemajuan tapi mungkin butuh percepatan," terang Farah.