PT PLN (Persero) menegaskan bahwa mereka tidak akan membuang limbah FABA, melainkan akan lebih fokus pada pemanfaatannya yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Pemanfaatan FABA ini memiliki potensi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, karena limbah ini bisa dimanfaatkan dalam berbagai sektor seperti konstruksi, infrastruktur, pertanian, dan lainnya.
Baca Juga:
PLN Olah 3,4 Juta Ton FABA Jadi Berbagai Bahan Pendukung Infrastruktur Masyarakat Sepanjang 2024
FABA sendiri merupakan material sisa dari proses pembakaran batu bara, yang secara fisik menyerupai debu halus seperti abu dari gunung berapi. Perbedaannya terletak pada tingkat kehalusan, di mana tekstur FABA sedikit lebih halus daripada abu vulkanik.
Selain itu, terdapat perbedaan antara fly ash dan bottom ash. Meskipun keduanya berasal dari hasil pembakaran batu bara, bottom ash memiliki ukuran yang lebih besar daripada fly ash yang lebih halus. Karena itu, bottom ash disebut sebagai abu yang "terendapkan" sedangkan fly ash disebut sebagai abu terbang.
Pemanfaatan FABA yang paling menjanjikan secara ekonomis adalah sebagai bahan konstruksi. Inilah salah satu alasan PLN mendorong pemanfaatannya, dengan tujuan tidak hanya untuk keuntungan perusahaan, tetapi juga untuk manfaat bagi masyarakat.
Baca Juga:
Top! Infrastruktur Strategis Penghubung IKN-Balikpapan Pakai FABA PLN
Selain menjadi salah satu strategi dalam mencapai target karbon netral pada tahun 2060, pemanfaatan FABA juga menjadi sumber daya ekonomi sirkuler yang dapat dioptimalkan untuk kebaikan bersama.
Beberapa laboratorium, seperti laboratorium Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara Kementerian ESDM bersama Laboratorium Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PPSDAL) Universitas Padjadjaran, telah melakukan uji kimia dan biologi atas FABA untuk lebih memahami potensinya.
Beberapa pengujian toxicology pun menunjukkan bahwa abu batu bara (FABA) yang diteliti dapat dikategorikan sebagai limbah tetapi bukan B3. [eta]