Kemudian yang juga masih dihitung sampai saat ini berapa keuntungan yang di dapat dengan panen lebih cepat berikut biaya operasi dan pemeliharaan.
Jaya mengungkap biaya-biaya yang harus ditanggung itu meliputi listrik pendingin ruangan berkapasitas satu daya kuda (paard kracht/PK), listrik spektrum pencahayaan, listrik sirkulasi air, pengadaan pupuk dan media tanam.
Baca Juga:
KPK Lempar Wacana Koruptor Tak Usah Dikasih Makan
General Manager PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya Doddy B Pangaribuan mengatakan budidaya tanaman di dalam kontainer merupakan bagian dari binaan PLN Peduli.
“PLN merasa terpanggil dengan sumber daya yang dimiliki untuk berupaya meningkatkan ketahanan pangan di DKI Jakarta yang selama ini terkendala lahan yang terbatas,” ungkapnya.
Meski baru proyek pilot, harapan Doddy apabila Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan petani merasakan manfaat dari teknologi itu maka dapat dikembangkan di lokasi lain.
Baca Juga:
APUK Dairi Gelar Talkshow Peran Perempuan dalam Keberlanjutan SDA dan Pameran Produk Lokal
Hal senada juga disampaikan Kepala Seksi Ketahanan Pangan dan Pertanian Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Selatan Nila Kartina yang mengatakan sejauh ini sumber listrik masih numpang kepada Balai Penyuluh Pertanian.
Namun, berdasarkan hitung-hitungan sementara, budi daya seperti ini seharusnya dibarengi dengan tanaman-tanaman yang memiliki nilai jual yang tinggi agar bisa memberi manfaat kepada petani.
Terkait hal itu, Nila mengatakan Sudin KPKP secara proaktif selalu memberikan penyuluhan kepada kelompok tani di wilayahnya agar memiliki kemampuan bercocok tanam yang memiliki nilai jual lebih tinggi agar bisa memberikan keuntungan.