Melalui “Jangan Paksa Rindu (Beda)”, Ifan Seventeen tidak hanya menghidupkan kembali nuansa
emosional yang lekat dengan Seventeen, tetapi juga mendorong arah baru industri, di mana viralitas,
storytelling, dan sinematografi menjadi elemen kunci dalam menciptakan dampak yang berkelanjutan.
Di era sekarang, satu hal menjadi semakin jelas, musik saja tidak lagi cukup. Karya yang mampu bertahan
adalah karya yang hidup di berbagai platform, membangun cerita, dan menciptakan pengalaman
emosional yang utuh bagi audiens.
Baca Juga:
Pemkab Tapteng Terima Opini WDP, Masinton: Ini Menjadi Motivasi untuk Bekerja Lebih Baik
Utaian Musikalitas Ifan Bertaut dengan Kekuatan Sajak Opik
Literasi, syair “Jangan Paksa Rindu (Beda)” dibuat Opik Kurdi bersama Ifa dengan bersajak bentuk kuint yakni lima baris seuntai per bait lima yang cocok untuk menggambarkan perasaan.
Kemudian, ditutup dengan koda yang bersajak tiga baris per bait yang disebut terzina untuk mengekspresikan suasana hati yang kuat-padat menjadi penekanan perasaan. Dari bentuk susunan sajak ini, menegaskan Opik Kurdi adalah penyair mumpuni yang semakin hebat oleh musikalitas yang dilagukan oleh Ifan Seventeen.
Baca Juga:
Bupati Tapteng Wanti-wanti Kepala Desa untuk Tidak Melakukan Penyelewengan Dana Desa
“Jangan Paksa Rindu (Beda)”
Ingatkah
Kapan terakhir kita bicara
Kapan terakhir
Kita saling bertatap muka
Berkata cinta
Sadarkah
Engkau yang dulu sudah berbeda
Membuat kita semakin jauh
Tak lagi sama
Seperti dulu