Kesuksesan ini menegaskan bahwa dalam industri saat ini, performa sebuah lagu tidak lagi ditentukan oleh satu kanal distribusi saja, melainkan oleh sinergi lintas platform, mulai dari streaming, media daring, hingga aktivasi visual di ruang publik.
Mengapa lagu “Jangan Paksa Rindu (Beda), ada kata dalam kurung. Dicerikatan Octav punya kisah khusus antara penamaan demi menjaga kemurnian karya murni seniman dengan karya industrialisasi seni. Maka, sebutnya, keduanya bersinergi.
“Awalnya judulnya ‘Beda’ kemudian saya usulkan menjadi ‘Jangan Paksa Rindu’ dengan intuisi saya, ternyata juga disetujui Ifan, tetapi saya segan mengusulkan diawalnya dan butuh waktu lama. Saya adalah pengusaha musik yang sangat menghormati pemusik, sehingga lama saya dapat ungkapkan. Eh, ternyata kata Ifan, ‘Mengapa gak dari dulu aja’. Pendengar sekarang tidak hanya ingin menikmati lagu, tapi juga memahami dan merasakan ceritanya. Karena itu, kami mencoba menghadirkan pengalaman yang lebih utuh, menggabungkan musik dengan narasi visual,” kisah Octav sembari tertawa.
Baca Juga:
Pemkab Tapteng Terima Opini WDP, Masinton: Ini Menjadi Motivasi untuk Bekerja Lebih Baik
Sebagai bagian dari rangkaian peluncuran dalam gala premiere ini dapat menghadirkan pengalaman menonton video klip di layar lebar untuk pertama kalinya. Langkah ini mempertegas cairnya batas antara konser musik dan pemutaran film, sekaligus membuka peluang monetisasi dan distribusi baru di masa mendatang.
Bagi Indra Suryadi sebagai Cinematographer mengisahkan soal kandungan pesan dalam klip video.
“Video ini mengisahkan seorang pria yang terjebak dalam kenangan cinta, terus merindukan sosok
yang ternyata antara ada dan tiada. Plot twist emosional yang dihadirkan memperkuat makna lagu sekaligus menciptakan pengalaman yang lebih dalam bagi penonton,” ujar Avesina Soebli yang bersama Jastis Arimba menjadi kreator video musik ini,” buka Indra.
Baca Juga:
Bupati Tapteng Wanti-wanti Kepala Desa untuk Tidak Melakukan Penyelewengan Dana Desa
Kolaborasi lintas bidang kreatif, antara musisi, sutradara, penulis naskah, hingga sinematografer, menjadi semakin penting dalam menciptakan karya yang mampu bersaing di era attention economy.
Tatkala banjir konten, audiens cenderung memilih karya yang tidak hanya menarik secara audio, tetapi juga memiliki narasi yang kuat dan visual yang berkesan.
Tentang Ifan Seventeen