Meski demikian, ia mengakui persaingan industri kosmetik global masih sangat ketat. Pelaku usaha nasional tidak hanya bersaing dengan merek premium internasional, tetapi juga menghadapi tantangan sertifikasi dan standardisasi produk.
Karena itu, Puntodewi menekankan pentingnya penguatan branding dan identitas produk kosmetik Indonesia agar semakin dikenal di pasar internasional.
Baca Juga:
Kemendag Resmikan Layanan Tera SPKLU, Pastikan Konsumen Kendaraan Listrik Tak Dirugikan
“Brand awareness Indonesia harus dikenal di pasar global. Kita harus membangun identitas kosmetik Indonesia yang kuat dengan memanfaatkan kekayaan alam dan budaya yang kita miliki,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia, Sancoyo, mengapresiasi dukungan Kementerian Perdagangan terhadap penguatan industri kosmetik nasional melalui penyelenggaraan lokakarya ekspor tersebut.
Menurut dia, industri kosmetik Indonesia terus menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa tahun terakhir dengan nilai pasar domestik yang diproyeksikan mencapai 10 miliar dollar AS.
Baca Juga:
Atdag RI Canberra Dorong Mahasiswa Indonesia di Australia Jadi Eksportir Masa Depan
Ia berharap sinergi antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha dapat terus diperkuat agar semakin banyak produk kosmetik nasional mampu menembus pasar internasional.
Dalam lokakarya tersebut, sejumlah narasumber dari kalangan industri, perbankan, logistik, hingga perwakilan perdagangan RI di luar negeri turut memberikan pembekalan kepada peserta.
Chief Operating Officer PT HMNS, Amron Naibaho, memaparkan materi mengenai riset produk dan analisis pasar kosmetik, khususnya terkait tren konsumen dan persaingan industri kecantikan.
Sementara itu, Head of PC Social Capabilities and Growth Initiatives Unilever Indonesia, Distya Tarworo Endri, membahas strategi branding dan pemasaran internasional.
Dari sektor pendukung ekspor, Transaction Banking Sales Team Head SMBC Indonesia, Stefi Rahmawati, menjelaskan sistem perhitungan dan pembayaran ekspor.