Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menegaskan bahwa kegiatan business matching tersebut tidak hanya menjadi ajang pertemuan bisnis, tetapi juga langkah nyata dalam meningkatkan penggunaan produk dalam negeri dan memperkuat daya saing industri pendukung ekosistem olahraga.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kapasitas dan daya saing industri pendukung ekosistem olahraga agar mampu berkembang, memperluas pasar, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan industri nasional,” ujar Reni.
Baca Juga:
Jelang Piala Dunia 2026, Harry Kane Semakin Kokoh sebagai Mesin Gol Inggris
Potensi besar industri pakaian dan sepatu olahraga juga tercermin dari jumlah pelaku usaha dan kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, industri kecil pakaian jadi mencapai sekitar 623.000 unit usaha dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 1,2 juta orang.
Sementara itu, industri menengah pakaian jadi tercatat sebanyak 1.200 unit usaha yang menyerap sekitar 39.000 tenaga kerja. Pada subsektor kulit, barang dari kulit, dan alas kaki, terdapat sekitar 48.000 industri kecil dan 415 industri menengah dengan total penyerapan tenaga kerja lebih dari 139.000 orang.
Pada Triwulan I Tahun 2026, industri pakaian jadi berkontribusi sebesar 0,99 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Adapun industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki memberikan kontribusi sebesar 1,30 persen terhadap PDB nasional.
Baca Juga:
Kolaborasi Kemenpora-Kemenperin Diperkuat, Industri Olahraga Nasional Dibidik Tembus Pasar Global
Menurut Reni, peluang pertumbuhan industri olahraga nasional juga terlihat dari kinerja ekspornya yang terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Pusat Data dan Informasi Kemenperin, komoditas pakaian jadi dari tekstil dan sepatu olahraga masuk dalam 20 komoditas manufaktur dengan nilai ekspor terbesar pada Februari 2026.
Nilai ekspor pakaian jadi tercatat mencapai 626,32 juta dollar AS, sementara ekspor sepatu olahraga mencapai 340,81 juta dollar AS.
“Potensi tersebut menunjukkan bahwa industri pendukung ekosistem olahraga nasional memiliki peluang besar untuk terus tumbuh dan menjadi bagian penting dalam penguatan struktur industri manufaktur Indonesia,” kata Reni.