WahanaNews.co, Jakarta -
Kementerian Perindustrian terus mendorong pengembangan industri flavor, fragrance, dan wellness berbasis bahan alam sebagai bagian dari strategi hilirisasi nasional. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui pengembangan Pusat Flavor and Fragrance (PFF) Bali yang dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung industri berbasis minyak atsiri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, Indonesia memiliki kekuatan besar dalam pengembangan industri tersebut karena didukung kekayaan biodiversitas dan ketersediaan komoditas minyak atsiri yang melimpah.
Baca Juga:
Kemenperin Perkuat Kerja Sama Industri dengan Rusia, Indonesia Jadi Partner Country INNOPROM 2026
“Pengembangan Pusat Flavor and Fragrance Bali menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat hilirisasi minyak atsiri nasional agar tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi seperti parfum, aromaterapi, produk spa, kosmetik, hingga produk rumah tangga berbasis bahan alam,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (11/5/2026).
Menurut Agus, Bali memiliki peluang pasar yang sangat besar untuk pengembangan industri hilir minyak atsiri. Hal itu didukung tingginya aktivitas pariwisata serta berkembangnya industri spa dan wellness di Pulau Dewata.
Ia menilai, tren gaya hidup sehat dan wellness tourism turut meningkatkan kebutuhan terhadap produk aromaterapi, minyak spa, parfum, lilin aromaterapi, hingga produk perawatan tubuh berbahan alami.
Baca Juga:
Kemenperin Perkuat Industri Bambu Nasional Lewat Akademi Komunitas Bambu
Sebelumnya, jajaran Direktorat Jenderal Industri Agro bersama media melakukan kunjungan kerja ke Bali guna melihat perkembangan PFF Bali sekaligus potensi pengembangan industri hilir minyak atsiri yang dikembangkan bersama pelaku industri lokal, termasuk PT Spa Factory Bali.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika menyampaikan, pengembangan PFF Bali diarahkan untuk memperkuat ekosistem industri flavor dan fragrance nasional melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), pengembangan inovasi produk, serta penguatan jejaring industri.
“PFF Bali tidak hanya menjadi pusat pelatihan, tetapi juga diharapkan mampu menjadi katalis pengembangan industri flavor dan fragrance nasional berbasis minyak atsiri Indonesia. Melalui fasilitas ini, kami mengupayakan lahirnya produk-produk inovatif yang memiliki daya saing di pasar domestik maupun global,” kata Putu.