WAHANANEWS.CO, Jakarta - Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan meningkatnya permintaan dunia terhadap mineral kritis untuk mendukung transisi energi serta industri teknologi, Indonesia kembali menegaskan peran strategisnya di panggung internasional.
Komitmen tersebut tercermin dalam pertemuan bilateral antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang berlangsung di Washington, DC., Kamis (19/2/2026) waktu setempat.
Baca Juga:
Danrem 042/Gapu “Jabatan Adalah Amanah, Laksanakan dengan Dedikasi dan Tanggung Jawab”
Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang menjadi fondasi baru dalam memperkuat hubungan dagang dan investasi kedua negara.
Bagi Indonesia, kesepakatan ART tidak sekadar dipandang sebagai kerja sama perdagangan biasa.
Pemerintah melihatnya sebagai instrumen strategis untuk mengamankan kepentingan nasional, khususnya dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya mineral kritis.
Baca Juga:
Transfer Data Indonesia-AS Dikritik: UU PDP Lebih Kuat, Tapi AS Lebih Tegas Menindak
Indonesia menegaskan bahwa kekayaan mineral nasional tidak boleh lagi diekspor dalam bentuk mentah, melainkan harus melalui proses hilirisasi guna menciptakan nilai tambah di dalam negeri, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan penerimaan negara.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa Indonesia tetap berpegang pada prinsip ekonomi bebas aktif.
Pemerintah, kata dia, memberikan kesempatan investasi yang setara kepada seluruh negara, termasuk Amerika Serikat, selama tetap mengikuti regulasi yang berlaku di Indonesia.