WAHANANEWS.CO, Jakarta - PT PLN (Persero) terus memperkuat langkah untuk mempercepat pengembangan energi panas bumi atau geotermal di Indonesia.
Perusahaan listrik negara tersebut menargetkan kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) meningkat signifikan, dari sekitar 2,8 gigawatt (GW) saat ini menjadi 7,9 GW pada 2033.
Baca Juga:
PLN Tuntaskan Pemulihan Listrik Flores Pascagempa M7,7, Seluruh Pelanggan Kembali Terlayani
Target tersebut menjadi bagian dari strategi PLN dalam mendukung agenda transisi energi sekaligus memperbesar pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) di dalam negeri.
Rencana peningkatan kapasitas itu juga telah diselaraskan dengan dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 serta arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.
Komitmen tersebut disampaikan dalam ajang Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 yang berlangsung di Jakarta, Sabtu (21/8/2026).
Baca Juga:
PLN Kawal Keandalan Listrik di Seluruh Indonesia Saat Upacara HUT ke-81 RI
Dalam acara tersebut, pemerintah bersama PLN dan pelaku industri menegaskan pentingnya mempercepat pemanfaatan potensi panas bumi Indonesia yang dikenal sangat besar.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah terus mendorong lahirnya berbagai terobosan di sektor energi bersih.
Menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk memperkuat kedaulatan energi Indonesia di tengah perubahan dan ketidakpastian geopolitik global.
Bahlil menilai pengembangan energi terbarukan, termasuk panas bumi, menjadi salah satu solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil, terutama energi yang masih harus didatangkan dari luar negeri.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia dalam sambutannya pada acara Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition di Jakarta menyampaikan bahwa Pemerintah berkomitmen mendorong terobosan energi bersih, salah satunya panas bumi guna meminimalisir ketergantungan pada energi fosil impor.
"Atas dasar pemikiran itu, Bapak Presiden Prabowo memerintahkan untuk segera mencari terobosan-terobosan alternatif dalam rangka mendorong kedaulatan energi kita. Tidak ada cara lain selain melakukan percepatan implementasi geotermal supaya bisa menjadi listrik ataupun menjadi yang lain. Harus ada kolaborasi antara pengusaha dan regulator," ujar Bahlil.
Indonesia Punya Potensi Panas Bumi Besar
Ketua Umum Asosiasi Panasbumi Indonesia (API) Julfi Hadi turut menyoroti besarnya peluang Indonesia dalam mengembangkan energi panas bumi.
Momentum satu abad eksplorasi panas bumi di Indonesia dinilai harus menjadi pemicu untuk melakukan percepatan dan lompatan dalam pengembangan sektor tersebut.
Julfi juga menyatakan dukungannya terhadap target pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama, bahkan pemimpin dunia dalam pemanfaatan energi panas bumi.
"Indonesia mempunyai local resources, mempunyai indigenous resources, yaitu panas bumi yang terbesar di dunia. Energi panas bumi mempunyai karakteristik spesial bisa menjadi base load yang andal. Satu-satunya base load renewable yang ada pada saat ini juga terbarukan, bersih dan terbentang luas dari Sabang sampai Merauke. Kunci mutlak menuju (Visi Panas Bumi) 30.1 adalah kolaborasi," kata Julfi.
Menurutnya, panas bumi memiliki keunggulan karena mampu menghasilkan listrik secara stabil sebagai pembangkit beban dasar atau base load.
Karakteristik tersebut membuat energi panas bumi memiliki posisi penting dalam mendukung sistem kelistrikan nasional, terutama ketika Indonesia secara bertahap meningkatkan porsi EBT.
Untuk mencapai ambisi tersebut, sinergi antara pemerintah, PLN, pengembang swasta, investor, regulator, serta berbagai pemangku kepentingan dinilai menjadi faktor yang sangat menentukan.
Melalui Visi Panas Bumi 30.1, pemerintah memiliki sasaran strategis untuk mendorong Indonesia menjadi produsen energi panas bumi nomor satu di dunia pada 2030.
PLN Siapkan Penambahan Kapasitas 5,1 GW
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menegaskan perusahaan siap menjalankan kebijakan pemerintah dalam mempercepat pengembangan energi terbarukan.
Panas bumi menjadi salah satu sektor yang mendapatkan perhatian karena Indonesia memiliki potensi sumber daya yang diperkirakan mencapai 23,2 GW.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi (tengah) berfoto bersama Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo (kiri) sesaat setelah menyerahkan secara simbolis Surat Keputusan Izin Panas Bumi (SK IPB) untuk Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ungaran kepada PLN pada Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition 2026 di Jakarta. Dalam kegiatan tersebut, PLN juga menandatangani Letter of Intent proyek-proyek kerja sama pengembangan panas bumi dengan beberapa mitra.
"Indonesia memiliki peluang emas untuk membawa kekayaan panas bumi menjadi pemimpin energi dunia. Sesuai arahan Pemerintah melalui RUPTL 2025-2034, dari kapasitas 2,8 GW saat ini, ke depan kami akan mendorong penambahan kapasitas sebesar 5,1 GW atau melompat menjadi total 7,9 GW pada 2033 sekaligus berpotensi menjadi yang terbesar di dunia,” tegas Darmawan.
Darmawan menjelaskan, peningkatan kapasitas tersebut akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan peta jalan RUPTL 2025–2034.
Secara keseluruhan, terdapat 110 proyek yang masuk dalam rencana pengembangan panas bumi.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 25 unit dengan total kapasitas sekitar 0,6 GW akan dikembangkan oleh PLN.
Sementara itu, 85 unit lainnya akan dikembangkan melalui Independent Power Producer (IPP) dengan total kapasitas mencapai 4,5 GW.
Skema tersebut menunjukkan bahwa pengembangan panas bumi nasional tidak hanya mengandalkan kemampuan PLN, tetapi juga membutuhkan keterlibatan investasi dan kapasitas teknis dari badan usaha lainnya.
PLN Buka Kolaborasi melalui GEECA dan SECA
Untuk mempercepat realisasi proyek, PLN juga membuka ruang kerja sama yang lebih luas dengan para mitra melalui sejumlah skema pengembangan.
Di antaranya Geothermal Exploration & Energy Conversion Agreement (GEECA) untuk Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) PLN serta Steam Sales & Energy Conversion Agreement (SECA) untuk WKP non-PLN.
Dari total rencana 79 proyek yang terdiri atas 45 proyek GEECA dan 34 proyek SECA, PLN memproyeksikan adanya tambahan kapasitas pembangkit panas bumi hingga 3,1 GW.
Langkah tersebut diharapkan dapat membuka peluang investasi baru sekaligus mempercepat proses eksplorasi, pengembangan lapangan, hingga pemanfaatan sumber daya panas bumi menjadi energi listrik.
Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurachman (tengah) mendengarkan pemaparan dari Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo (kiri) terkait rencana pengembangan panas bumi di Indonesia di booth PLN pada acara Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition 2026, Jakarta. PLN siap mengakselerasi pengembangan energi panas bumi nasional dengan menargetkan peningkatan kapasitas terpasang dari 2,8 GW menjadi 7,9 GW pada 2033 sekaligus menuju yang terbesar di dunia.
“PLN membuka kolaborasi seluas-luasnya bagi para mitra melalui skema GEECA dan SECA. Lewat kolaborasi yang fairness ini, diharapkan dapat mengakselerasi pengembangan panas bumi, sebagai salah satu energi baru terbarukan domestik,” ucap Darmawan.
Perkuat Kerja Sama Pengembangan Proyek
IIGCE 2026 juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antarpemangku kepentingan dalam pengembangan EBT nasional.
Dalam kegiatan tersebut, Kementerian ESDM secara simbolis menyerahkan Surat Keputusan Izin Panas Bumi (SK IPB) untuk Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ungaran kepada PLN.
Selain itu, PLN menandatangani Deklarasi Kemitraan Strategis Pengembangan Panas Bumi bersama sejumlah mitra untuk mengembangkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dengan total kapasitas hingga 453 megawatt (MW).
Kerja sama juga diperluas oleh PLN Group melalui PLN Indonesia Power bersama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk.
Kedua pihak menandatangani Letter of Intent (LoI) terkait kerja sama pembelian tenaga listrik yang berasal dari pengembangan proyek panas bumi Lahendong Binary (Bottoming) Unit 15 MW di Sulawesi Utara dan Ulubelu Binary (Bottoming) Unit 30 MW di Lampung.
Pengembangan teknologi binary atau bottoming tersebut menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya panas bumi yang tersedia sehingga potensi energi yang sebelumnya belum termanfaatkan secara maksimal dapat dikonversi menjadi tambahan pasokan listrik.
Darmawan menegaskan, PLN akan terus mendorong kolaborasi untuk mempercepat pengembangan panas bumi di berbagai wilayah Indonesia.
Menurutnya, optimalisasi energi panas bumi bukan hanya berkaitan dengan penambahan kapasitas pembangkit, tetapi juga memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
”Dengan dukungan Pemerintah dan kolaborasi para mitra, PLN siap mengakselerasi pengembangan panas bumi. Ke depan, panas bumi tidak hanya memperkuat pasokan listrik baseload yang andal, tetapi juga sekaligus mendukung swasembada energi, ketahanan energi, dan percepatan transisi energi nasional," pungkas Darmawan (Seremoadver).
[Redaktur: Ajat Sudrajat]