WahanaNews.co, Boston - Paviliun Indonesia menggelar seminar bertajuk “Indonesia in Dialogue: A Tuna Case Study Toward Sustainable and Traceable Seafood” pada hari kedua pameran Seafood Expo North America (SENA) 2026, Senin (16/3), di Boston, Amerika Serikat. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia di pasar global melalui penerapan prinsip keberlanjutan dan ketertelusuran dalam sektor perikanan.
Seminar tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Atase Perdagangan RI di Washington D.C. dan Kedutaan Besar RI di Washington D.C., bekerja sama dengan Global Dialogue on Sustainable Traceability dan Tuna Consortium.
Baca Juga:
Indonesia Siap Perjuangkan Kepentingan Nasional di KTM ke-14 WTO
Sejumlah pemangku kepentingan turut hadir sebagai panelis, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, hingga organisasi internasional.
Atase Perdagangan RI di Washington D.C., Ranitya Kusumadewi, menjelaskan bahwa forum ini bertujuan menunjukkan komitmen jangka panjang Indonesia dalam menjaga pangsa pasar ekspor seafood, khususnya ke Amerika Serikat dan negara lainnya. Menurut dia, keberlanjutan dan ketertelusuran kini menjadi faktor krusial dalam menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar global.
“Indonesia terus memperkuat tata kelola sektor perikanan melalui peningkatan sistem sertifikasi dan inspeksi, penguatan pengujian laboratorium, serta pengembangan sistem dokumentasi dan ketertelusuran di sepanjang rantai pasok,” ujar Ranitya.
Baca Juga:
Minat Pasar AS Tinggi, Produk Perabotan Indonesia Catat Potensi Transaksi Rp182,74 M di Chicago
Sementara itu, Staf Ahli Bidang Transformasi Digital dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Bara Hasibuan, menekankan pentingnya kesiapan Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan perdagangan global.
Sebagai produsen tuna terbesar di dunia sekaligus pemasok utama ke pasar Amerika Serikat, Indonesia dinilai perlu bersikap proaktif terhadap berbagai regulasi internasional, termasuk Marine Mammal Protection Act dan peningkatan standar keamanan pangan.
Bara menegaskan, terdapat tiga aspek utama yang harus dijaga, yaitu keberlanjutan, keamanan pangan, dan ketertelusuran produk. Ketiga hal tersebut menjadi fondasi penting dalam mempertahankan akses pasar sekaligus meningkatkan kepercayaan pembeli internasional.