WAHANANEWS.CO, Jakarta - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran menyambut positif rencana Danantara Indonesia dan Badan Pengaturan BUMN menjadikan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk sebagai holding maskapai BUMN dengan PT Pelita Air Service bergabung ke dalam Garuda Group.
“Konsolidasi ini merupakan langkah strategis untuk membangun kelompok maskapai nasional yang lebih kuat, efisien, dan mampu melayani kebutuhan konektivitas masyarakat dari wilayah barat hingga timur Indonesia,” kata Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran KRT Tohom Purba, Minggu (26/7/2026).
Baca Juga:
OASA dan SUS Environment Kembangkan PSEL Lampung Raya, MARTABAT Prabowo-Gibran: Transformasi Sampah Jadi Energi Perlu Dipercepat
Menurut Tohom, penggabungan kekuatan Garuda Indonesia dan Pelita Air dapat menciptakan pembagian pasar, rute, serta segmen penumpang yang lebih terarah tanpa menimbulkan persaingan tidak sehat di antara perusahaan milik negara.
Ia menilai Garuda Indonesia dapat difokuskan sebagai maskapai layanan penuh yang memperkuat penerbangan domestik strategis dan internasional, sedangkan Pelita Air dapat memperluas pelayanan pada rute-rute penghubung antarkota di dalam negeri.
“Garuda dan Pelita Air harus ditempatkan sebagai dua kekuatan yang saling melengkapi karena masing-masing memiliki karakter bisnis, jaringan, dan kelompok penumpang yang berbeda,” ujar Tohom.
Baca Juga:
Ruang Bersama Lansia Jakarta, MARTABAT Prabowo-Gibran: Perlu Dikembangkan dalam Skala Aglomerasi
Danantara Indonesia bersama BP BUMN sebelumnya menyiapkan Garuda Indonesia sebagai holding maskapai nasional dalam rangka transformasi perusahaan negara di sektor penerbangan.
Dalam skema tersebut, Pelita Air yang saat ini berada di bawah PT Pertamina (Persero) akan dialihkan menjadi bagian dari Garuda Group.
Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer Danantara Indonesia Dony Oskaria telah bertemu dengan jajaran direksi Pelita Air pada Kamis (23/7/2026) untuk membahas arah penguatan holding maskapai nasional.
Dony menyatakan konsolidasi tersebut diharapkan menciptakan grup maskapai yang lebih kuat sehingga mampu bersaing dan memperbesar pangsa pasar penerbangan nasional.
Tohom menilai proses konsolidasi harus disertai pembenahan tata kelola, efisiensi armada, penguatan manajemen rute, serta integrasi sistem penjualan tiket agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh penumpang.
Menurut dia, holding maskapai tidak boleh hanya berhenti pada perubahan struktur perusahaan karena keberhasilannya akan dinilai dari ketepatan waktu, keselamatan, harga tiket, kenyamanan, serta luasnya konektivitas penerbangan.
“Ukuran keberhasilan konsolidasi bukan hanya laporan keuangan yang membaik, tetapi juga semakin banyak masyarakat yang memperoleh penerbangan aman, tepat waktu, dan terjangkau,” kata Tohom.
Ia melihat Garuda Group memiliki peluang besar untuk menjadi tulang punggung konektivitas udara nasional apabila pengelolaan setiap rute dilakukan berdasarkan kebutuhan masyarakat dan perhitungan bisnis yang akurat.
Industri penerbangan membutuhkan pengelolaan yang sangat teliti karena setiap penerbangan dapat langsung dihitung tingkat keuntungan maupun kerugiannya.
Analisis terhadap tingkat keterisian penumpang, jadwal penerbangan, biaya operasional, serta konektivitas antarrute menjadi unsur penting dalam menjaga kesehatan perusahaan.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa konsolidasi maskapai BUMN juga harus mendukung pengembangan kawasan metropolitan dan pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Menurutnya, konektivitas udara yang baik dapat mempercepat pergerakan masyarakat, investasi, perdagangan, pariwisata, dan distribusi layanan publik antardaerah.
“Jaringan penerbangan harus dirancang terhubung dengan kereta api, pelabuhan, jalan tol, dan transportasi perkotaan agar perjalanan penumpang menjadi lebih cepat dan efisien,” ujar Tohom.
Ia juga mendorong Garuda Group memperbaiki seluruh rangkaian pelayanan penumpang mulai dari pembelian tiket, layanan di bandara, pengalaman di dalam pesawat, penanganan bagasi, hingga pelayanan setelah penerbangan.
Integrasi sistem penjualan tiket antara Garuda Indonesia dan Pelita Air dinilai dapat mempermudah masyarakat dalam memilih rute lanjutan serta mengurangi kendala saat melakukan perpindahan penerbangan.
Penguatan kualitas lounge, katering, pelayanan awak kabin, program loyalitas, serta pengembangan sumber daya manusia juga harus menjadi bagian penting dari transformasi.
Tohom mengatakan pemerintah perlu menjaga agar konsolidasi tersebut tidak mengurangi pilihan masyarakat atau menciptakan harga tiket yang semakin sulit dijangkau.
“Pemerintah harus memastikan efisiensi perusahaan berjalan seiring dengan perlindungan konsumen karena maskapai BUMN memiliki tanggung jawab bisnis sekaligus tanggung jawab pelayanan kepada masyarakat,” katanya.
MARTABAT Prabowo-Gibran berharap konsolidasi Garuda Indonesia dan Pelita Air menjadi momentum untuk membangun industri penerbangan nasional yang sehat, mandiri, dan mampu bersaing di kawasan regional.
“Garuda Group harus tumbuh menjadi perusahaan penerbangan yang membanggakan, tetapi tetap hadir sebagai sarana pemersatu wilayah dan penggerak ekonomi nasional,” tutup Tohom.
[Redaktur: Sandy]