WAHANANEWS.CO, Jakarta - PT PLN (Persero) kembali menegaskan komitmennya dalam mempercepat pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) melalui pembangunan ekosistem hidrogen nasional yang terintegrasi.
Langkah tersebut menjadi bagian dari dukungan PLN terhadap visi swasembada energi yang dicanangkan Presiden RI Prabowo Subianto, sekaligus memperkuat transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan di Indonesia.
Baca Juga:
PLN Electric Run 2026 Siap Digelar, Targetkan 8.000 Pelari untuk Kampanye Transisi Energi
Komitmen tersebut ditegaskan dalam penyelenggaraan Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition (GHES) 2026 yang berlangsung di Jakarta, Sabtu (25/7/2026).
Forum internasional ini menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, BUMN, pelaku industri, akademisi, hingga mitra global untuk mempercepat pengembangan industri hidrogen di Tanah Air.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan bahwa hidrogen memiliki peran strategis sebagai sumber energi alternatif yang mampu mendukung transisi energi, memperkuat kemandirian energi nasional, sekaligus mendorong hilirisasi sumber daya alam sesuai arah pembangunan dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga:
Investor Global Berebut Proyek PSEL, PLN Jamin Serap Listrik Lewat Kontrak 30 Tahun
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia (tengah), Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Eniya Listiani Dewi (kedua dari kiri), Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo (kanan), Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian (kedua dari kanan), dan Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza (kiri) ketika meresmikan pembukaan acara Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition (GHES) 2026 di Jakarta pada Sabtu (25/7/2026).
"Pengembangan hidrogen sejalan dengan arahan Asta Cita Bapak Presiden Prabowo. Hidrogen merupakan energi alternatif yang sangat penting di tengah kondisi geopolitik global yang tidak menentu. Karena hidrogen ini dihasilkan dari air, gas, batu bara, biomassa, bahan baku hidrogen yang ada pada bangsa kita itu tidak perlu diragukan lagi,” ucap Bahlil.
Menurut Bahlil, pengembangan ekosistem hidrogen dari sektor hulu hingga hilir tidak hanya akan menghasilkan energi yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Pengembangan tersebut diyakini mampu meningkatkan daya saing industri, menarik investasi baru, menciptakan lapangan kerja, serta menjadi motor pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Meski demikian, ia menilai percepatan pengembangan industri hidrogen masih membutuhkan dukungan dari sejumlah aspek penting.
Keempat faktor tersebut meliputi kesiapan teknologi, terbentuknya pasar yang kuat, masuknya investasi, serta regulasi yang mampu memberikan kepastian dan mempercepat implementasi berbagai proyek hidrogen di Indonesia.
"Yang pertama adalah memang teknologi, yang kedua adalah pasar, yang ketiga memang kita butuh investor, dan yang keempat dalam rangka melakukan percepatan itu dibutuhkan regulasi. Nah pada konteks ini, silakan kita Pemerintah, khususnya Kementerian ESDM, sangat terbuka dalam rangka melakukan diskusi-diskusi, regulasi apa yang dibutuhkan untuk melakukan percepatan yang lebih efisien," jelas Bahlil.
Sejalan dengan arah kebijakan pemerintah, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, menyampaikan bahwa pengembangan hidrogen nasional terus didorong sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi di sektor industri, transportasi, hingga ketenagalistrikan.
Upaya tersebut juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi berbasis bahan bakar fosil.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi menyampaikan bahwa pengembangan hidrogen nasional didorong guna mendukung dekarbonisasi sektor industri, transportasi, dan ketenagalistrikan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
"Saat ini kami mempunyai 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen yang proyek-proyeknya tersebar di seluruh Indonesia dan melahirkan investasi sebesar Rp32 triliun," ujar Eniya.
Di sisi lain, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan bahwa pengembangan hidrogen merupakan salah satu bentuk nyata kontribusi PLN dalam mendukung target swasembada energi nasional sekaligus mewujudkan sistem energi yang lebih bersih, andal, dan berkelanjutan.
”Hidrogen merupakan solusi transisi dari energi fosil ke energi masa depan. PLN siap memimpin pengembangan ekosistem hidrogen nasional secara terintegrasi melalui kolaborasi dengan pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pelaku industri, akademisi, hingga mitra internasional,” jelas Darmawan.
Sebagai langkah nyata, sejak 2023 PLN telah mengoperasikan Green Hydrogen Plant (GHP) pertama di Indonesia yang berlokasi di PLTGU Muara Karang, Jakarta.
Hingga kini, perusahaan telah mengoperasikan total 24 Green Hydrogen Plant yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia sebagai fondasi awal pengembangan industri hidrogen hijau nasional.
Menurut Darmawan, seluruh fasilitas tersebut mampu memproduksi hidrogen hijau hingga 203,6 ton per tahun.
Sebanyak 75 ton per tahun dimanfaatkan untuk kebutuhan pendingin generator pembangkit listrik, sedangkan sekitar 128 ton per tahun lainnya dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan berbagai sektor strategis, termasuk industri dan transportasi.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo dalam sambutannya pada Opening Ceremony Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition (GHES) 2026 di Jakarta. menjelaskan bahwa pengembangan hidrogen merupakan wujud komitmen PLN dalam mendukung visi besar Presiden Prabowo untuk mencapai swasembada energi nasional.
"PLN siap all out mengekspansi apa yang sudah kami awali di setiap lini, sehingga ekosistem hidrogen nasional dapat terakselerasi. Ini adalah komitmen PLN sebagai pionir ekosistem hidrogen end-to-end di Indonesia,” ujar Darmawan.
Tak hanya berperan sebagai produsen hidrogen hijau, PLN juga terus membangun infrastruktur pendukung guna mempercepat terbentuknya rantai pasok hidrogen nasional.
Infrastruktur tersebut antara lain berupa Hydrogen Refueling Station (HRS) sebagai stasiun pengisian hidrogen, serta Hydrogen Center yang menjadi pusat kompetensi hidrogen pertama di Indonesia.
Selain itu, PLN juga memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui kerja sama produksi green ammonia bersama Pupuk Kujang.
Produk tersebut telah dimanfaatkan dalam program co-firing di PLTU Labuan, Banten, sebagai bagian dari upaya menekan emisi karbon di sektor pembangkit listrik.
Untuk mempercepat pemanfaatan hidrogen di berbagai sektor, PLN juga menjalankan sejumlah joint study.
Di antaranya pengembangan Jakarta Hydrogen Mobility bersama Kementerian ESDM, TransJakarta, dan DAMRI, serta studi pengembangan produksi hidrogen hijau di Jambi dan Gresik bersama Pupuk Indonesia dan sejumlah mitra strategis.
Ke depan, PLN memastikan akan terus memperluas kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, baik di dalam maupun luar negeri.
Pengembangan ekosistem hidrogen diyakini mampu membuka peluang ekonomi baru, menciptakan lapangan kerja hijau, meningkatkan investasi, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.
"Bagi PLN, hidrogen bukan sekadar energi bersih, tetapi industri masa depan yang akan memperkuat ketahanan energi, menarik investasi, dan meningkatkan daya saing Indonesia. Karena itu, kami terus mempercepat kolaborasi agar Indonesia menjadi pemain utama dalam ekonomi hidrogen global,” pungkas Darmawan (Seremoadver).
[Redaktur: Ajat Sudrajat]