WAHANANEWS.CO, Jakarta - MARTABAT Prabowo-Gibran merespons positif capaian realisasi investasi Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK yang telah mencapai Rp353 triliun karena angka tersebut menunjukkan kepercayaan investor terhadap arah ekonomi nasional di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Lonjakan investasi KEK adalah kabar besar bagi Indonesia, tetapi keberhasilan berikutnya sangat ditentukan oleh keberanian pemerintah membenahi perizinan dan birokrasi agar modal yang masuk cepat berubah menjadi pabrik, pekerjaan, teknologi, dan nilai tambah ekonomi,” ujar Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, Selasa (7/7/2026).
Baca Juga:
Wastra IKN Dikembangkan Jadi Identitas Nusantara, MARTABAT Prabowo-Gibran: Ini Ekonomi Kreatif yang Berakar Budaya
Tohom mengatakan investasi sebesar Rp353 triliun yang melibatkan 471 entitas bisnis di 25 KEK membuktikan bahwa Indonesia memiliki daya tarik kuat sebagai pusat pertumbuhan industri, manufaktur, pendidikan, logistik, dan hilirisasi.
Menurutnya, penyerapan lebih dari 260.000 tenaga kerja dari aktivitas KEK harus dibaca sebagai bukti bahwa kebijakan kawasan ekonomi khusus mampu memberi dampak langsung kepada rakyat jika dikelola dengan tata kelola yang cepat dan bersih.
“Investasi yang datang ke KEK tidak boleh tersandera oleh meja birokrasi yang panjang, karena setiap hari keterlambatan berarti peluang kerja tertunda dan momentum ekonomi bisa berpindah ke negara lain,” katanya.
Baca Juga:
Infrastruktur IKN Capai Progres Signifikan, MARTABAT Prabowo-Gibran: Visi Besar Harus Dikawal Serius
Ia menilai permohonan perluasan kawasan di KEK Gresik, KEK Kendal, dan KEK Galang Batang menjadi sinyal bahwa kapasitas industri Indonesia sedang bergerak naik dan membutuhkan respons negara yang lebih agresif.
Menurut Tohom, kondisi kawasan yang sudah penuh terpakai harus dijawab dengan percepatan lahan, kepastian tata ruang, kesiapan energi, akses pelabuhan, konektivitas jalan, air bersih, perumahan pekerja, dan sistem perizinan yang terintegrasi.
“Pemerintahan Prabowo-Gibran punya peluang besar menjadikan KEK sebagai lokomotif ekonomi baru, asalkan seluruh kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah bekerja dalam satu irama eksekusi,” ucapnya.
Tohom menyebut potensi investasi KEK hingga Rp846 triliun dalam beberapa tahun ke depan harus dijaga dengan kepastian hukum, pelayanan cepat, dan pengawasan yang mencegah praktik pungutan liar maupun hambatan tidak perlu.
Ia mengatakan investor membutuhkan kejelasan, konsistensi, dan rasa aman, sehingga reformasi birokrasi investasi harus menyentuh proses dari pengajuan awal, pengadaan lahan, izin lingkungan, pembangunan kawasan, sampai operasional produksi.
“Kalau pemerintah mampu membuat perizinan lebih ringkas, digital, transparan, dan dapat dipantau publik, maka KEK bisa menjadi panggung besar bagi industrialisasi Indonesia,” katanya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa pengembangan KEK harus terhubung dengan agenda aglomerasi wilayah agar manfaat investasi tidak berhenti di pagar kawasan industri.
Ia menilai KEK yang baik harus menghidupkan kota sekitar, membuka ruang bagi UMKM, memperkuat pendidikan vokasi, memperbaiki transportasi pekerja, dan menciptakan pusat ekonomi baru yang lebih merata.
“Jangan sampai KEK hanya menjadi pulau industri yang maju sendiri, karena kawasan itu harus tumbuh bersama masyarakat sekitar dan menjadi sumber naik kelasnya ekonomi lokal,” ujarnya.
Menurut Tohom, masuknya kerja sama Indian Institute of Management Bangalore dengan KEK Singhasari Malang juga memberi pesan penting bahwa KEK tidak hanya berbicara soal pabrik dan lahan industri, tetapi juga penguatan sumber daya manusia.
Ia mengatakan kolaborasi pendidikan kelas dunia di KEK dapat menjadi pintu lahirnya pemimpin bisnis, inovator, pengusaha muda, dan tenaga kerja berkeahlian tinggi yang dibutuhkan Indonesia dalam persaingan global.
“KEK masa depan harus memadukan industri, teknologi, pendidikan, riset, dan kewirausahaan agar Indonesia tidak hanya menjadi tempat produksi, tetapi juga pusat lahirnya nilai tambah dan inovasi,” kata Tohom.
MARTABAT Prabowo-Gibran mendorong pemerintah menjadikan capaian investasi KEK sebagai pijakan untuk mempercepat pemerataan ekonomi, memperluas lapangan kerja, memperkuat hilirisasi, dan meningkatkan daya saing Indonesia di mata investor global.
Tohom mengatakan agenda besar Prabowo-Gibran akan makin kuat jika KEK mampu menjadi contoh birokrasi yang melayani, daerah yang siap investasi, dan negara yang berani memotong hambatan demi kepentingan rakyat.
“Momentum ini harus dijaga, karena investasi besar membutuhkan kepemimpinan besar, koordinasi kuat, dan birokrasi yang paham bahwa tugas negara adalah membuka jalan bagi kemajuan,” pungkasnya.
Sebelumnya, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menyebut realisasi investasi KEK hingga kuartal I-2026 telah mencapai Rp353 triliun dengan 471 entitas bisnis yang beroperasi di 25 lokasi KEK.
Susiwijono juga menyampaikan bahwa KEK Gresik, KEK Kendal, dan KEK Galang Batang sedang mengajukan perluasan kawasan karena kapasitas yang ada sudah penuh terpakai dan investasi baru masih mengantre.
[Redaktur: Sobar Bahtiar]