WAHANANEWS.CO, Jakarta - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran menyambut positif rencana konsolidasi sejumlah BUMN logistik ke dalam satu entitas terintegrasi sebagai langkah strategis untuk memperkuat daya saing nasional, menekan biaya logistik, dan memperbaiki jaringan distribusi Indonesia.
“Kami melihat konsolidasi tujuh perusahaan logistik pelat merah ini sebagai langkah besar untuk membuat BUMN bekerja dalam satu orkestra layanan yang lebih kuat, efisien, dan berdampak langsung bagi ekonomi rakyat,” ujar Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, Selasa (23/6/2026).
Baca Juga:
Geger 100 Titik Dapur MBG di Cilacap Diduga Fiktif, Ada yang Berlokasi di Hutan dan Kuburan
Tohom mengatakan rencana penggabungan sejumlah perusahaan logistik ke dalam PT Multi Terminal Indonesia atau MTI per 1 Juli 2026 menunjukkan adanya keberanian pemerintah dan BUMN untuk merapikan struktur bisnis yang selama ini tersebar di banyak entitas.
Menurutnya, integrasi logistik tidak boleh hanya dipahami sebagai penggabungan perusahaan, melainkan sebagai agenda besar untuk membangun sistem distribusi nasional yang lebih cepat, murah, dan terkoneksi dari pelabuhan hingga daerah.
“Kalau logistik kuat, maka harga barang bisa lebih terkendali, distribusi pangan dan kebutuhan pokok lebih lancar, serta dunia usaha mendapat kepastian layanan yang lebih baik,” katanya.
Baca Juga:
Sempat Jadi DPO dan Diburu dengan Sayembara Rp250 Juta, Taufik Hidayat Penganiaya YTR Akhirnya Diringkus Polisi
Tohom menilai konsolidasi PT Multi Terminal Indonesia, PT Prima Indonesia Logistik, PT Pos Logistik Indonesia, PT Sarana Bandar Logistik, PT KBN Prima Logistik, PT Varia Usaha Dharma Segara, dan PT Krakatau Jasa Logistik menjadi fondasi awal yang penting bagi pembentukan holding logistik nasional.
Ia menyebut keterlibatan perusahaan dari ekosistem Pelindo, Pos Indonesia, Pelni, Danareksa, SIG, dan Krakatau Steel memperlihatkan bahwa rantai logistik nasional membutuhkan kerja lintas sektor yang tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
“Indonesia adalah negara kepulauan besar, sehingga sistem logistik tidak boleh terpecah dalam ego korporasi masing-masing, tetapi harus bergerak sebagai satu jaringan nasional yang saling memperkuat,” ucapnya.