Dukungan serupa juga disampaikan Gubernur Sverdlovsk Region Denis Pasler. Menurutnya, wilayah tersebut sebagai pusat penyelenggaraan INNOPROM menyambut baik kehadiran Indonesia dan berharap pameran tersebut menjadi awal kerja sama yang lebih luas, termasuk investasi, proyek manufaktur bersama, serta pengembangan teknologi.
Dalam ajang tersebut, Indonesia membawa 50 co-exhibitors dan institusi dari berbagai sektor industri, mulai dari agroindustri, kimia dan farmasi, manufaktur khusus, barang konsumsi, manufaktur dan rekayasa maju, hingga kawasan industri dan investasi.
Baca Juga:
Investasi Kawasan Ekonomi Khusus Melonjak, MARTABAT Prabowo-Gibran: Saatnya Perizinan Dibuat Lebih Gesit
Para peserta dijadwalkan mengikuti berbagai agenda, seperti business matching, forum bisnis, pertemuan bilateral, serta diskusi sektoral yang dirancang untuk mempercepat terwujudnya kerja sama bisnis, investasi, dan pengembangan manufaktur bersama.
Selain itu, Indonesia menghadirkan Paviliun Indonesia seluas 1.512 meter persegi sebagai etalase industri nasional. Paviliun tersebut menjadi ruang promosi produk, teknologi, dan peluang investasi Indonesia kepada pelaku usaha, investor, asosiasi bisnis, serta pembuat kebijakan dari berbagai negara.
Direktur Program Bisnis Formika Event sekaligus penyelenggara INNOPROM, Anton Atrashkin, menilai kehadiran Indonesia sebagai Official Partner Country menjadi salah satu sorotan utama dalam penyelenggaraan INNOPROM 2026. Menurutnya, partisipasi Indonesia mencerminkan semakin berkembangnya hubungan ekonomi Indonesia dan Rusia sekaligus membuka peluang kolaborasi baru yang saling menguntungkan.
Baca Juga:
Kemenperin Ajak Masyarakat Gunakan Produk Peralatan Sekolah Lokal Jelang Tahun Ajaran Baru
Sebagai pameran industri internasional terbesar di kawasan Eurasia, INNOPROM diikuti lebih dari 48.000 pengunjung dari sekitar 60 negara. Ajang tersebut menjadi platform strategis bagi Indonesia untuk memperluas jejaring kemitraan, menarik investasi, dan membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk manufaktur nasional.
Tri menegaskan, keberhasilan partisipasi Indonesia dalam INNOPROM tidak hanya diukur dari jumlah pertemuan maupun nota kesepahaman yang ditandatangani selama pameran berlangsung, tetapi juga dari realisasi kerja sama setelah kegiatan berakhir.
"Kami ingin melihat lebih banyak investasi industri, proyek ko-produksi, transfer teknologi, dan kerja sama manufaktur yang memberikan nilai tambah bagi industri Indonesia maupun Rusia," kata Tri.