WAHANANEWS.CO, Jakarta - Dalam rangkaian agenda IMF Spring Meetings 2026 yang digelar di Amerika Serikat, 13-18 April 2026, Indonesia kembali disebut-sebut sebagai salah satu negara yang menjadi titik terang (bright spot) dalam perekonomian global.
Hal ini disampaikan Managing Director International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva, dalam pertemuan dengan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa, dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI dalam rangkaian pertemuan lanjutan dengan investor global pada IMF Spring Meetings (14/4).
Baca Juga:
Penanganan Bencana Jadi Prioritas, Pemerintah Anggarkan Hingga Rp 60 Triliun di APBN 2026
Dalam siaran pers BI, Direktur Departemen Komunikasi BI Anton Pitono mengatakan, alasan IMF menyebut Indonesia sebagai salah satu negara birght spot karena mempertimbangkan fundamental yang kuat, kebijakan yang kredibel, serta ketahanan ekonomi yang terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
"IMF dan investor global mengapresiasi konsistensi Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi melalui sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang solid, disiplin dalam mempertahankan defisit di bawah 3% dari PDB, serta respons kebijakan yang adaptif dan forward-looking dalam menghadapi tekanan eksternal," kata Anton dalam siaran pers, Rabu (15/4/2026).
Ia menyebut, di tengah dinamika global yang semakin kompleks, Indonesia dinilai mampu mengelola keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan secara optimal, dengan tetap menjaga momentum pertumbuhan yang didukung oleh kuatnya permintaan domestik.
Baca Juga:
Per Juni 2025 Utang RI Tembus Rp9.138 Triliun, Purbaya Angkat Suara
Merespons penilaian IMF itu, Anton mengungkapkan bahwa Bank Indonesia dan pemerintah akan terus memastikan perekonomian Indonesia tetap berada pada jalur yang tepat dan terkelola dengan baik di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
"Dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap solid didukung oleh permintaan domestik yang kuat, inflasi yang terjaga dalam sasaran, serta pemulihan intermediasi perbankan, Indonesia menunjukkan ketahanan yang konsisten di tengah tekanan eksternal," tuturnya.
Bank Indonesia juga menekankan bahwa respons kebijakan yang ditempuh tidak lagi bersifat konvensional, melainkan melalui bauran kebijakan yang terintegrasi dan adaptif, mengombinasikan kebijakan moneter yang berfokus pada stabilitas, kebijakan makroprudensial yang pro-pertumbuhan, serta penguatan sistem pembayaran untuk mendukung aktivitas ekonomi dan digitalisasi.